Imam Jesuit dari Jerman Berhati Jawa

Foto497 Views

“Romo Bernhard Kieser walaupun disiplin kerjanya seorang Jerman tetapi hatinya melebihi seorang Jawa. Ia sangat halus dan dia tidak bisa untuk tidak menolong,” kenang Romo G.P. Sindhunata, SJ, teman tinggal bersama terlama di Kolese Ignatius (Kolsani) Yogyakarta.

Apa yang dikatakan Romo Sindhu ini menggambarkan  sosok Romo Bernhard Kieser, SJ. Romo  kelahiran Bruchsal, Jerman, 28 September 1938 datang ke Indonesia pada tahun 1963 sebagai misionaris Jesuit muda.

Romo Kieser. SJ bersama para Jesuit sekomunitas dalam sebuah liburan komunitas. (Dok. Kolsani).

Ia pertama menginjakkan kakinya di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah untuk belajar bahasa Indonesia dan Jawa. Setelah itu ia diutus ke kolsani Yogyakarta mengabdikan seluruh hidupnya. Lelaki Jerman yang  tinggal di Indonesia sebagai rumah dan hidupnya hingga akhir hayat.

Tuhan memanggilnya pada 6 Juni 2026 siang. Dalam usia 88 tahun ia menghadap-Nya. Ia sudah pergi kepada Allah, tetapi semangat hidup dan teladan hidup dan pelayanannya tetap tinggal dalam hati banyak orang.

Romo Sindhunata mengenang, saat mereka beristirahat siang, Romo Kieser hanya mengambil beberapa potong roti tawar dari perpustakaan sebagai makan siangnya. Setelah itu, ia kembali bekerja. Baginya, bekerja bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati.

Romo Kieser, SJ (kiri), Romo Sindhunata, SJ (tengah) dalam sebuah liburan komunitas Kolsani. (Dok. Kolsani).

Romo Sindhu mengatakan, hal yang membuatnya begitu dicintai bukan hanya kedisiplinannya. Tetapi di balik ketelitian dan keteraturan khas Jermannya  itu tersimpan hati yang lembut dan penuh belas kasih.

“Ia selalu peka terhadap penderitaan sesama. Ia tidak tahan melihat orang kesusahan tanpa berusaha membantu. Perhatiannya tertuju kepada mereka yang berada di pinggiran kehidupan: kaum miskin, mereka yang tersisih, dan orang-orang yang sering luput dari perhatian.

Romo Kiser mengajari dan meneladani bagi para calon imam untuk tidak hanya memahami teologi dari buku-buku. Romo Kieser mengajarkan temukanlah Kristus dalam kehidupan nyata orang-orang yang menderita.

 

Romo Bernhard Kieser mendampingi Mary Jane Veloso saat sidang di Pengadilan Negeri Sleman tahun 2015. (Slamet Riyadi).

Kepeduliannya bahkan menjangkau mereka yang berada di balik jeruji besi. Dengan setia ia mengunjungi para narapidana, mendengarkan kisah hidup mereka, dan menghadirkan harapan. Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menemani. Baginya, setiap manusia tetap memiliki martabat yang harus dihormati.

Romo Ari Purnomo, Pr seorang Romo Keuskupan Agung Semarang mengenangnya sebagai dosen yang cara mengajarnya yang hidup dan menginspirasi.

“Sebagai dosen, Romo Kieser juga dikenang karena caranya mengajar yang hidup dan menginspirasi. Humor, cerita, dan pertanyaan-pertanyaan reflektif membuat mahasiswa terus berpikir,” kenang Romo Ari siang itu di samping jenazah Romo Kieser sambil berucap  Romo Kieser tidak sekadar memberi jawaban, tetapi mengajak orang menemukan makna hidupnya sendiri.

Romo Kieser, SJ dalam bedah bukunya di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Bagi sebagian anak yang tumbuh di lingkungan gereja, sosok Romo Bernhard Kieser, S.J. pasti meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan. Seperti dialami oleh Stella Vania, baginya imam Jesuit asal Jerman itu dulu termasuk romo “londho” yang agak menakutkan. Wajahnya tegas, pembawaannya disiplin, dan kata-katanya sering terdengar lugas tanpa banyak basa-basi. Ia sangat berbeda dengan Romo Tom Jacobs, S.J. yang ia kenal lebih ramah dan hangat. Namun, justru di balik ketegasan itulah tersimpan perhatian yang mendalam.

“Saat saya menyelesaikan studi S-1 dan masih berputar-putar di sekitar aktivitas gereja, Romo Kieser menjadi salah satu orang yang mendorong saya keluar dari zona nyaman. Dengan nada khasnya yang tegas ia berkata, “Pergi! Cari pekerjaan atau kuliah lagi. Jangan di sekitar sini terus!” tutur vania di sebuah media sosial pribadinya.

Kalimat yang terdengar keras itu ternyata menjadi salah satu nasihat paling berharga yang membuka mata Vania tentang masa depannya. Relasi itu berlanjut ketika Vania menempuh studi S-2 di Bandung. Setiap kali pulang ke Yogyakarta, saya menyempatkan diri bertemu dengannya di Kolese Santo Ignatius. Beberapa kali pula Vania memilihnya sebagai pendamping dalam Sakramen Rekonsiliasi. Vania menemukan sisi lain Romo Kieser: seorang pendengar yang sabar, penuntun yang bijaksana, sekaligus “opa” yang peduli pada perjalanan hidup anak-anak muda.

Tuhan telah memanggil Romo Kieser. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini. UTUSAN/Slamet Riyadi).

Romo Bernhard Kieser, SJ, yang juga biasa disapa Romo Teddy memang datang dari Jerman. Namun ketika berpulang Sang Khalik, Indonesia pun kehilangannya. Ia telah menjadi sahabat bagi siapapun yang hatinya telah menyatu dengan tanah Jawa.

Selamat jalan Romo Kieser, doakanlah kami. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Frater Craver, SJ pun mengenalnya sebagai sosok yang khas. Ia bersahabat dengan Romo Kieser dalam masa dua tahunan. Ia menemukan keunikan dan pencerahan akan generasi tua dan muda. Dari Romo Kieser, Frater Craver dicerakan saatnya yang muda menjadi penerus generasi selanjutnya dalam panggilan dan pelayanan.

Hidup, kasih, pelayanan, dan kemanusiaan tidak mengenal batas usia, bangsa maupun bahasa. Romo Bernhard Kieser telah mengimani Kristus, Santo Ignatius adalah spirit hidupnya, ia telah menjadi teman seperjalanan bagi siapapun dalam segala lini hidup. Ia seorang Imam Jesuit Jerman yang berhati Jawa. Damai di Surga Romo Kieser. Berkah Dalem.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *