Manggarai Barat. Pastoral kehadiran adalah pastoral pendekatan yang dilakukan oleh Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus. Minggu, 5 Januari 2025, Mgr. Maksi memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja Stasi Stella Maris.
Gereja ini terletak di pesisir Kota Labuan Bajo yang dikelilingi oleh umat Islam. Bahkan, Gereja Stella Maris sangat berdekatan dengan masjid.
Di Gereja Stella Maris, untuk pertama kalinya setelah ditahbiskan menjadi Uskup Labuan Bajo pada 1 November 2024, Mgr. Maksi merayakan Ekaristi Hari Raya Penampakan Tuhan bersama umat.
Stella Maris merupakan stasi tertua dari Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo yang memiliki sejarah yang panjang dan unik. Usianya sudah menginjak 113 tahun.
Kisahnya terkait kunjungan misionaris pertama, Pater Engbers, SJ yang bertolak dari Maumere menuju Reo, dan akhirnya berlabuh di Labuan Bajo pada tahun 1911. Kala itu, ia datang mengunjungi orang-orang Katolik asal Larantuka yang bekerja sebagai penyelam mutiara di Labuan Bajo.
Di pintu gerbang gereja yang bersejarah ini, Mgr. Maksi diterima secara adat tuak curu dan manuk kapu oleh ketua stasi bersama tokoh umat. Seluruh umat yang memadati pelataran kapela stasi dan turut menyaksikan peristiwa penyambutan ini tampak sangat antusias dan bersukacita menerima kedatangan sang gembala mereka.
Dalam homilinya, Mgr. Maksi menggarisbawahi tiga poin penting dari inspirasi hidup para majus dari Timur.
Pertama, kerinduan untuk mencari Yesus. Para majus dari Timur adalah orang-orang besar yang memiliki kerinduan untuk mencari pribadi yang paling berharga dalam hidup mereka. Dialah Yesus. Mereka rela meninggalkan tempat asal mereka untuk menjumpai Dia.
“Kita belajar dari kesetiaan mereka mencari Yesus dan menjadikan Dia sebagai prioritas utama di atas segala-galanya. Misalnya, dalam hal berdoa, kita melakukannya bukan karena ada waktu sisa, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan kita,” ujar Mgr. Maksi.
Kedua, menemukan Yesus. Dalam ziarah mencari Yesus, orang-orang majus juga mengalami banyak tantangan dan kesulitan, termasuk dari Herodes. Namun, mereka tetap tekun dan setia hingga akhirnya menemukan Yesus.
Perjumpaan dengan Yesus adalah sumber sukacita, karena Dialah pokok utama pencarian mereka. “Dalam hidup ini, kita juga selalu mencari. Namun, cukup sering yang ditemukan bukan Yesus, melainkan keinginan-keinginan pribadi kita,” papar Mgr. Maksi.

Ketiga, persembahan. Dalam perjalanan mencari dan menemukan Yesus, para majus dari Timur membawa serta persembahan yang paling berharga dari diri mereka. Mereka menjaga persembahan selama perjalanan hingga mempersembahkannya kepada Yesus.
“Kita juga diajak untuk mempersembahkan yang paling berharga dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, bukan sesuatu yang sisa, yang tidak digunakan lagi,” pungkas Mgr. Maksi.
Sementara itu, Norman Diaz selaku Ketua Stasi Stella Maris menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan Mgr. Maksi. “Kami sungguh bergembira karena Bapa Uskup merayakan Ekaristi bersama umat. Kehadiran Bapa Uskup menjadi penyemangat bagi kami untuk tetap tekun dan setia membangun iman dan mengembangkan kehidupan Gereja di stasi ini,” ungkapnya.
Nurman menambahkan, “Kami sangat senang dengan kunjungan Bapa Uskup di Gereja Stella Maris. Bapa Uskup orang yang sederhana dan tidak terlalu mau diperlakukan istimewa. Hal ini dapat kita lihat ketika umat meminta foto bersama, Bapa Uskup memberi waktu seluas-luasnya kepada siapa saja yang mau foto dengannya.”
Selain itu, soal makan, Mgr. Maksi juga tidak mau yang mewah. Apa yang umat makan, itu juga yang ia makan. Ia pun sangat humoris. Guyonannya membuat umat merasa rileks sehingga banyak yang dekat dengannya. Hal ini membuat umat tidak merasa sungkan atau takut. “Bapa Uskup sangat dekat dengan orang kecil dan sederhana,” sebut Nurman.
Buce Helo, salah seorang tokoh umat Stella Maris, mengajak umat Stasi Stella Maris untuk melihat sejarah panjang stasi ini sebagai pintu masuk iman Katolik di wilayah barat Pulau Flores.
“Mari kita menjaga identitas kekatolikan kita dari pengaruh-pengaruh baru yang masuk dari luar. Kita perlu membangun iman yang kukuh dan kesatuan hidup menggereja,” ajak Buce.
Mgr. Maksi pun menyampaikan motivasi dan peneguhan kepada umat untuk tetap setia menjaga dan memelihara iman mereka.
“Stasi Stella Maris ini merupakan stasi yang paling barat dari keuskupan ini dan pintu gerbang masuk Pulau Flores. Kita diharapkan membentuk barikade iman yang kukuh dan tangguh untuk menjaga nilai-nilai kekatolikan yang sudah bertumbuh dan berakar di sini. Untuk itu, kita perlu membangun kebersamaan yang solid sebagai Gereja dan juga terbuka untuk melihat tantangan perubahan yang terjadi agar dapat disikapi dengan baik. Hal itu dimulai dari kesetiaan dan ketekunan kita mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan iman bersama,” kata Mgr. Maksi.
Dalam perencanaan, Stasi Stella Maris akan meresmikan kapel baru pada Mei mendatang.








