Saleh dan setia menjadi suatu persoalan yang mendasar bagi manusia. Kesalehan manusia dapat diukur dari bagaimana cara ia menyikapi hidupnya sehari-hari. Sebagai contoh saat ia diberikan suatu cobaan penyakit yang sangat menyiksa dan parah, ia tetap setia kepada Allah dan teguh pada imannya, juga percaya bahwa Allah akan memberikan kesembuhan bagi dirinya.
Selain itu, masih banyak lagi contoh mengenai kesalehan kepada Allah dalam hidup manusia. Banyak orang yang lebih memilih hidup berada dalam zona nyaman, memilih sesuatu yang lebih menguntungkan dirinya sendiri meskipun lari dari tanggung jawabnya.
Pada zaman yang semakin modern ini, semua ditantang kesalehannya oleh Tuhan. Semakin sulitnya perekonomian dan banyaknya cobaan yang menimpa hidup, kebanyakan orang tidak tahan menghadapinya dan lebih memilih sesuatu yang menurutnya aman untuk hidupnya.
Saleh berarti setia dan mampu bertahan terhadap berbagai cobaan yang silih berganti, bahkan cobaan itu bukan lagi tergolong cobaan yang ringan, melainkan cobaan yang luar biasa berat sehingga dari situlah orang dapat diukur kesalehannya.
Banyak fakta yang menggambarkan orang yang tidak dapat saleh dalam menjalani hidupnya, dan tidak jarang juga penyebab seseorang tidak dapat lagi saleh adalah materi, ketidaknyamanan, kondisi yang tidak mendukung, dan lain sebagainya.
Gambaran orang saleh yang benar-benar saleh dalam menghadapi segala cobaan yang ada ialah Ayub. Ayub adalah salah satu dari sekian banyak tokoh Kitab Suci yang mengajarkan tentang kesalehan dengan tindakannya. Ayub di dalam Kitab Suci dikisahkan sebagaimana orang yang saleh tetapi banyak mengalami penderitaan karena diberi cobaan oleh iblis atas izin Allah sebagai ujian atas kesalehannya.
Jangan dikira cobaan yang diberikan iblis hanya cobaan yang ringan-ringan, melainkan cobaan yang sangat sulit bahkan orang lain tidak sanggup menanggungnya dan membuatnya tidak mampu bertahan dalam kesalehannya.
Menderita merupakan ujian dari iblis atas izin Allah. Dengan begitu, Allah tahu seberapa besar kesalehan umat-Nya untuk tetap patuh kepada-Nya. Bukan berarti jika orang tahan derita ia tidak mengeluh, tetap orang seperti Ayub pun mengeluh dalam penderitaannya.
Akan tetapi, mengeluh bukan berarti harus berpaling dari Allah, tetapi cobalah untuk selalu mengerti, memahami, serta memaknai setiap penderitaan yang ada dalam hidup ini. Ayub bukan hanya sekali atau dua kali mengeluh tentang penderitaannya kepada Allah, tetapi berkali-kali mengeluh, setiap saat menyalahi penderitaan.
Ayub meskipun kesal karena segala sesuatu yang ia miliki telah diambil Allah, tetapi ia tetap tabah menghadapinya sebagai hamba Allah yang saleh dan setia.
Mengapa banyak orang tidak mau ambil risiko dari penderitaan hidup dan berpaling dari Allah? Hal ini disebabkan banyak orang beranggapan bahwa cobaan, kemalangan, dan ujian hidup itu berasal dari Allah.
Sesungguhnya, jika dipahami lebih dalam, Allah tidak mencobai hamba-Nya, melainkan Allah mengizinkan cobaan menimpa hamba-Nya, dengan maksud mengetahui seberapa salehnya hamba itu terhadap-Nya.
Melihat lebih dalam lagi mengenai kisah hidup Ayub yang diceritakan setia dalam Kitab Suci, Ayub dari awal merupakan seorang yang sangat saleh. Dengan kesalehannya itu, Allah memberikan segalanya yang Ayub minta.
Pada suatu ketika, iblis datang kepada Allah dan berkata, “Memang Ayub adalah orang yang saleh dan taat, karena Engkau sendiri yang membuatnya demikian, Engkau memberikan kelimpahan kekayaan dan rahmat kepadanya. Sekarang singkirkanlah segala rahmat dan kekayaan itu dari padanya, dan lihatlah seberapa lama dan jauh ia tetap setia pada-Mu.”

Lalu Allah menerima tantangan dari iblis itu, penderitaan demi penderitaan datang dalam hidup Ayub, mulai dari penyakit yang menimpa dirinya hingga kematian yang menimpa keluarganya.
Dari peristiwa itulah Allah dapat mengetahui seberapa kuat hamba-Nya itu dan masihkah Ayub tetap setia dan taat kepada-Nya. Meskipun ada berbagai pemberontakan dan ketidakterimaan Ayub terhadap apa yang terjadi pada dirinya, tetapi pada akhirnya seorang yang bernama Ayub itu pun setia terhadap Allah.
Imannya tidak goyah. Ayub yang semula adalah hamba Allah yang saleh, kini setelah menghadapi berbagai cobaan hidup, Ayub tetap menjadi hamba yang saleh. Kesalehannya membuktikan bahwa Allah benar-benar mencintainya.
Ayub adalah seorang hamba Allah yang saleh. Karena kesalehannya itu, Allah sangat mencintainya, bahkan Allah memberikan kelimpahan kekayaan dan rahmat kepadanya. Namun, kesetiaannya dicobai oleh Allah dengan berbagai macam penderitaan. Meski begitu, ia tetap saleh dan setia pada Allah.
Kesalehan berarti patuh dan tidak berpaling dari Allah dan menuruti segala perintah-Nya. Kesalehan mengandung kesetiaan, matiraga, pengorbanan. Allah tidak pernah sekalipun meninggalkan manusia meski manusia itu telah berdosa kepada-Nya.
Setia itu tanpa syarat, meski telah kecewa tetapi sifat setia itu akan membuat dirinya yakin kepada suatu hal yang ia yakini. Kitab Ayub ini sangat kentara diwarnai dengan apa yang disebut penderitaan orang saleh. Atau, juga dapat dikatakan orang saleh yang menderita.
Buktinya, Kitab Ayub mengisahkan bagaimana seorang yang tidak bersalah mengalami penderitaan yang luar biasa hebatnya, dan di sini iblislah yang mencobainya. Sebenarnya, Kitab Ayub ini tidak mengutarakan bahwa penderitaan itu datangnya dari Allah, melainkan dari iblis. Sebab, iblis yang membuat umat Allah menderita.
Sementara itu, Allah dalam Kitab Ayub jelas dikatakan hanya mengizinkan iblis untuk mencobai manusia atau umat-Nya. Dengan izin dari Allah, iblis sangat senang mencobai manusia, bahkan mengambil habis kepunyaan manusia, termasuk keluarga pun dapat diambil.
Jika dilihat dari Kitab Ayub, situasi umat yang terjadi pada saat itu adalah miskin iman. Kebanyakan pada zaman itu orang-orang jatuh ke dalam penderitaan. Iman mereka terhadap Allah luntur karena mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah yang akan menyelamatkan mereka.
Karena itu, dengan menggunakan nama tokoh Ayub inilah Allah ingin mengajarkan kepada kaum beriman bahwa orang hendaknya tetap saleh meski ia menderita. Allah ingin umat-Nya tetap saleh meski mengalami suatu penderitaan.
Kitab ini mengutarakan soal penderitaan dan kesalehan, supaya umat Allah yang membaca kitab ini imannya semakin teguh dan tetap saleh meskipun ia menderita sebagaimana yang dialami Ayub. Dengan demikian, manusia tidak mengutuki Allah, melainkan tetap setia terhadap Allah saat ia mengalami suatu penderitaan yang luar biasa hebat.
Kitab Ayub ini memberikan suatu gambaran dan pelajaran bagi manusia bahwa manusia hendaknya hidup dengan penuh syukur kepada Allah meskipun ia mengalami suatu musibah atau penderitaan hidup.
Makna lain dari Kitab Ayub yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup ialah kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini (lih. Ayb. 1:21). Kitab ini menyingkap suatu penderitaan orang saleh atas kuasa iblis yang ingin menghancurkan imannya.
Penderitaan yang dikisahkan dalam Kitab Ayub ini sungguh mengenaskan, benar-benar dalam keadaan menderita. Penderitaan ini dirasakan amat menyakitkan karena bukan hanya satu hal miliknya yang dimusnahkan, tetapi semua kepunyaan Ayub dilenyapkan.
Barang siapa mengalami situasi seperti itu, pasti ia tidak akan kuat lagi menjalani hidup ini dan pastinya ia akan menyerah kepada iblis. Penderitaan bukan akhir dari segalanya, tetapi menjadi awal dari keselamatan Allah kepada umat-Nya.
Ayub merupakan tokoh dalam Kitab Suci, yang digambarkan sebagai tokoh yang saleh tetapi menderita. Sebagai orang yang sangat setia dan saleh hidupnya tetapi Allah mengizinkan penderitaan terjadi atas dirinya, Ayub memang cocok dijadikan suatu teladan kesalehan bagi seluruh umat manusia yang teguh dalam iman di dalam situasi apa pun.
Ayub juga patut dijadikan sebagai gambaran hidup manusia yang tidak mudah berpaling dari Allah saat ia berada dalam kondisi hidup yang sangat menderita.
Semoga kisah tentang Nabi Ayub membuat kita semakin mengerti bahwa setiap tantangan, cobaan yang kita hadapi, berakhir dengan hal yang bahagia.








