Napak tilas menjadi salah satu kegiatan rutin yang diadakan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Petrus Warak setiap tahunnya. Kali ini, napak tilas dilaksanakan pada Jumat – Sabtu, 25-26 Oktober 2024 dengan rute dari Gereja Santo Petrus Warak, Sleman sampai Gua Maria Sendangsono, Kulon Progo.
Kegiatan napak tilas ini berangkat dari sejarah OMK pendahulu yang berjalan kaki karena ujud syukur atas keterlibatan mereka dalam berpelayanan di gereja. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengakrabkan antaranggota OMK dalam melayani Tuhan melalui perjumpaan kegiatan rohani. Selain itu, kegiatan napak tilas juga diadakan karena bertepatan dengan bulan rosario, ketika seluruh umat katolik selama satu bulan berdoa rosario secara rutin di setiap harinya.
Kegiatan napak tilas kali ini sedikit sepi, karena bersamaan dengan kegiatan masing-masing OMK yang masih duduk di bangku sekolah sehingga hanya diikuti 20-an OMK. Namun, hal ini tidak menjadi hambatan dan menurunkan niat kami untuk melanjutkan kegiatan ini.
Kegiatan OMK ini didukung penuh oleh pastor paroki kami, Rm. Yohanes Yunuar Ismadi, Pr. Kegiatan napak tilas dimulai pukul 18.00 dengan titik kumpul Gereja Santo Petrus Warak dan sampai di tujuan Gua Maria Sendangsono pukul 23.50. Napak tilas ini dibagi menjadi tiga kegiatan yang dilakukan, yakni berjalan bersama menuju Gua Maria Sendangsono, berdoa bersama, dan sharing OMK.
Satu jam pertama perjalanan kami lewati dengan cukup antusias dan belum merasa capai. Selama di perjalanan, kami banyak mengobrol santai, mendengarkan musik sambil menikmati indahnya alam pada malam hari.
Setelah dua jam berjalan, kami mulai merasa lapar dan lelah sehingga kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan menambah “amunisi” kami. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan keadaan jalanan yang mulai sepi dan gelap.
Beberapa dari kami sudah mulai lecet kakinya. Karena sudah tidak kuat berjalan, kami memutuskan untuk naik pick up yang disediakan tim. Sekitar 10-an OMK yang masih sanggup berjalan saling memberi semangat dan menjaga. Tak jarang di tempat yang gelap, sepi, dan dikelilingi sawah, kami mengucapkan doa secara bersamaan.
Sekitar tujuh kilometer lagi kami sampai di Gua Maria Sendangsono, tempo berjalan kami sudah mulai melambat. Akhirnya, kami memutuskan untuk singgah lagi di area Ancol Bligo untuk minum dan beristirahat.
Tak lama, hujan yang turun membuat kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena medan yang dilewati gelap, licin, dan jalan menanjak dipandang membahayakan. “Wis, kabeh numpak pick up ro mobil bantuan wae. Dalane mbebayani nek udan (Sudahlah, semua naik pick up dan mobil bantuan saja. Jalannya berbahaya kalau kondisi hujan,” saran Wisnu, ketua OMK.
Kami sampai di Gua Maria Sendangsono pukul 23.50 dan langsung meletakkan barang bawaan serta meluruskan kaki di dua pendopo yang tersedia di sana. Setelah bersih-bersih diri, kami makan malam lalu doa bersama.
Setelah sesi dua selesai, kami beristirahat di dua pendopo sambil menikmati dinginnya udara dan gemericik air hujan. Meskipun sekujur badan terasa nyeri dan pegal, tetapi hati kami bahagia karena penyertaan Tuhan selama perjalanan menuju Sendangsono.
“Dakkira bakalan sedhela le isa mlaku, jebule isa suwe, ra ketang ora tekan ndhuwur (Kukira cuma sebentar berjalannya, ternyata lama, meski nggak sampai atas)” ungkap Ajeng, salah satu OMK.
Pagi harinya, kami bangun dengan mendengarkan kegiatan para pendoa yang juga berziarah di Sendangsono. Kami kembali bersih-bersih dan melanjutkan kegiatan kami, yakni sarapan dan sharing sebelum kembali ke Gereja Santo Petrus Warak.
Kami men-sharing-kan tentang cinta kasih Allah yang memberikan kekuatan untuk menjadi Orang Muda Katolik yang sejati dan memberi aksi nyata, seperti kegiatan napak tilas rohani ini.
Setelah kegiatan sharing selesai, berakhir pula rangkaian napak tilas ini dan kami kembali dengan hati penuh sukacita. Perjalanan dan perjumpaan yang kami lalui ini menyadarkan bahwa Tuhan selalu dekat dengan kita melalui kasih yang diterima dari orang-orang di sekitar kita.








