Refleksi Kontribusi Bapa Suci terhadap Indonesia

Seminar Paus Fransiskus dan Gereja Indonesia

News2340 Views

Jakarta. Dalam rangka selebrasi Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, yang merupakan bentuk kepedulian Bapa Paus pada komunitas-komunitas Gereja Katolik lokal yang berada di pinggiran dunia, Serikat Yesus Indonesia turut menyemarakkan dengan menyelenggarakan seminar bertema “Paus Fransiskus dan Gereja Indonesia: Refleksi dan Selebrasi Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dan Asia 2024” pada Minggu, 1 September 2024 di Auditorium Kolese Kanisius, Jakarta.

Panelis dalam seminar ini adalah Mgr. Adrianus Sunarko, OFM; Laurentius Amrih Jinangkung, S.H., LIL.M; Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ, S.S., Ph.D; Milda Longgeita Pinem, S.Sos., MA, Ph.D.; dan Raden Rara Maria Anita Dewi Sari. Sementara itu, Rm. Martinus Dam Febrianto, SJ bertindak sebagai moderator.

Mgr. Sunarko. Paus Fransiskus ingin Gereja mengambil sikap secara cepat menanggapi isu-isu penting.

Mgr. Sunarko pada kesempatan pertama memberikan gambaran mengenai pandangan tentang Gereja (eklesiologi) dari Paus Fransiskus. Gereja yang mendampingi kaum lemah bisa menjadi mercusuar atau lentera bagi mereka yang tersesat dalam badai. Karya Gereja yang menyerupai rumah sakit lapangan membuka jalan-jalan integrasi. Ekaristi pun menjadi obat yang penuh daya.

“Gereja juga digambarkan sebagai seorang ibu yang memberikan pengajaran objektif dan selalu memberikan yang terbaik dengan risiko menjadi kotor penuh lumpur jalanan. Gereja memar yang tidak takut tersesat daripada tertutup dan terlindung oleh rasa aman yang palsu,” imbuh Uskup Pangkal Pinang ini.

Ia pun menguraikan tiga model Gereja yang menjadi eklesiologi dari Paus Fransiskus, yaitu Gereja sebagai umat Allah dengan Sensus Fidei; Gereja sinodal dengan komunio, misi, dan partisipasinya; serta Gereja misioner yang tidak takut keluar menemani yang kebingungan pada zaman ini dan berdialog dengan sesama yang mengembara di dunia ini.

Paus Fransiskus menginginkan Gereja yang mengambil sikap secara cepat menanggapi isu-isu penting yang berkembang, peka terhadap penderitaan sekeliling, pada orang-orang yang menderita dan yang berdosa. “Gereja diajak untuk segera menangani dan menyembuhkan tanpa terjebak pada birokrasi maupun sibuk dengan urusan internal serta menjadi tertutup,” tegas Mgr. Sunarko.

Paus Fransiskus juga memandang Gereja sebagai umat Allah yang setia memiliki ciri sinodal dalam kaitannya terhadap Sensus Fidei (citarasa iman individu dan kelompok), mengakomodasi partisipasi semua orang, dan memiliki misi. “Gereja tidak kehilangan jati diri dengan mengedepankan klerikalisme. Gereja juga harus waspada terhadap kolonialisasi ideologi. Gereja yang membuka ruang perjumpaan, tidak takut keluar dan masuk dalam kegelapan malam menemani ‘dua murid Emaus’,” pungkas Mgr. Sunarko.

Amrih Jinangkung. Negara-negara di belahan bumi selatan mempunyai karakteristik berkembang dan kurang berkembang.

Selanjutnya, Amrih berbicara mengenai signifikansi Vatikan di bawah Paus Fransiskus dalam politik global. Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci ke-20 (14 September 2020 – 27 April 2022) ini salah satunya menjabarkan poin tentang “Takhta Suci Vatikan dan Belahan Bumi Selatan”. “Sebenarnya dalam konteks Vatikan, tidak ada dikotomi antara belahan bumi utara dan selatan. Ini hanya dibedakan dalam diskusi kita ini saja,” tegasnya.    

Negara-negara di belahan bumi selatan mempunyai karakteristik berkembang dan kurang berkembang serta memiliki berbagai isu pembangunan (kemiskinan, pendapatan rendah, standar hidup, pendidikan, kesehatan, perumahan, infrastruktur, dan lain-lain), dan jumlahnya relatif besar.

“Maka, kunjungan Paus Fransiskus ke beberapa negara merefleksikan perhatian pada isu kemiskinan, perdamaian, dialog lintas iman, kaum pinggiran, pengungsi, dan lain sebagainya,” sebut Amrih yang kini menjabat Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Rm. Bagus. Karya dan keterbukaan Paus Fransiskus terhadap perbedaan diterima baik oleh berbagai agama.

Sebagai “orang ketiga” yang menyampaikan materi, Rm. Bagus menyebut Paus Fransiskus ingin Gereja membuka ruang-ruang perjumpaan tanpa sekat. Hal ini ditunjukkan Paus Fransiskus dengan melakukan banyak perjalanan, berjumpa dengan banyak pemimpin agama lain, serta mengunjungi negara-negara miskin.

“Kunjungannya juga tidak terbatas pada negara dengan umat Katolik yang besar. Beliau berkunjung ke Mongolia pada Agustus 2023, padahal populasi umat Katoliknya ‘cuma’ 1.500 orang. Ada lelucon kalau jumlah populasi kuda di Mongolia lebih banyak dari populasi umat Katoliknya,” seloroh Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini.

Usaha keluar dari kenyamanan ditunjukkan Paus Fransiskus dengan kunjungan pertamanya ke Pulau Lampedusa, Italia pada Juli 2013. Keberpihakannya pada kaum marginal ditunjukkan dengan menemui migran yang tinggal di pulau itu. Di sana, Paus Fransiskus merayakan Misa untuk mengenang migran yang mati dalam usahanya mencari masa depan yang lebih baik.

“Berbeda dengan para Paus sebelumnya, Paus Fransiskus sudah dikenal baik oleh bangsa Indonesia sebelum kunjungannya pada bulan September ini. Karya dan keterbukaannya terhadap perbedaan diterima baik oleh berbagai agama,” ujar Rm. Bagus.

Milda. Paus Fransiskus secara konsisten mengakui kontribusi penting perempuan.

Setelah Rm. Bagus, Milda yang berada di Paser, Kalimantan Timur, hadir secara online melalui layar. Ia merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Milda memberikan materi dengan judul “Paus Fransiskus: Tentang Gender dan Maknanya bagi Selatan”. Ia menyebut beberapa dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, yaitu Evangelii Gaudium (2013), Amoris Laetitia (2016), Christus Vivit (2019), dan Querida Amazonia (2020) yang menyoroti peran perempuan dalam Gereja dan masyarakat.

“Paus Fransiskus secara konsisten mengakui kontribusi penting perempuan, terutama dalam keluarga dan misi evangelisasi, sambil tetap mempertahankan ajaran tradisional Gereja perihal peran gender yang komplementer. Ini sangat menarik,” urai Milda sembari menambahkan, “Paus Fransiskus juga kerap mengeluarkan pernyataan yang men-support nonbiner atau LGBTQI+.”

Di sisi lain, ruang perjumpaan pada kaum muda juga dilakukan Paus Fransiskus. Tidak hanya dengan menghadiri World Youth Day (WYD), tetapi juga membuka audiensi online. Raden Rara Maria Anita Dewi Sari merupakan salah satu kaum muda yang beruntung ikut audiensi online dengan Paus Fransiskus pada 20 Juni 2024 dengan tema “Building the Bridge Across Asia Pacific”.

Saat itu, Paus tidak hanya berjumpa, tetapi juga membuka dialog dengan mendengarkan dan menanggapi. Budaya membangun jembatan juga ditunjukkan dengan membuka komunikasi lintas iman yang memiliki perbedaan budaya dengan Gereja Katolik.

Maria Anita. Membina hubungan lintas iman tidak bisa sepenuhnya dihindari.

“Saat ditanya tentang perjumpaan lintas iman (interfaith relationship) yang dihadapi kaum muda, karena perjumpaan ini memiliki risiko pindah agama atau membangun keluarga beda agama, Paus Fransiskus menanggapi kalau beliau paham pergulatan kaum muda saat membina hubungan lintas iman. Hal ini tidak bisa sepenuhnya dihindari. Maka, yang diharapkan dari kaum muda adalah tetap memegang teguh iman dan tetap terhubung dengan doa supaya bisa menjalani hubungan dengan lebih efektif dan membuka komunikasi secara lebih baik,” kisah Maria Anita, mahasiswa Program Magister Psikologi USD.

Rm. Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur, SJ selaku ketua panitia seminar menyatakan, “Sebagai puncak hierarki Gereja Katolik, ada banyak hal yang dipikirkan dan diputuskan oleh Paus Fransiskus di luar sekedar masalah bertahan hidup. Cakupan tanggung jawabnya luas, kompleks, dan kebijakannya harus relevan dengan zaman yang akan terus berubah.”

Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia adalah kunjungan pertama baginya. Ini merupakan kunjungan ketiga dari pimpinan Gereja Katolik setelah Paus Paulus VI pada tahun 1970 dan Paus Paulus Yohanes II pada tahun 1989.

Seminar ini bertujuan untuk lebih mengenalkan karya-karya Paus Fransiskus dan refleksi mendalam tentang kontribusi Bapa Suci terhadap Indonesia dan Belahan Bumi Selatan. Selain itu, seminar ini juga membantu Provinsialat SJ Provinsi Indonesia (Provindo) dan umat Gereja Indonesia dalam menanggapi isu-isu penting saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *