Bantul. Prodiakon Paroki St. Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti rekoleksi yang digelar pada Minggu, 20 September 2026 di Gereja Mater Dei Imogiri dengan tema “Prodiakon Ambil Bagian dalam Tugas Perutusan Kristus Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”.
Rekoleksi ini menghadirkan narasumber katekis sekaligus penulis buku rohani Aloysius Amin Susanto dan Pastor Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr.
Maria Yustina Titik Marsiswati, Ketua Panitia Rekoleksi, menyebut rekoleksi ini sebagai salah satu kegiatan prodiakon paroki untuk kebersamaan.
Titik menjelaskan kata “menyejahterakan” yang terkandung dalam tema bisa dimaknai bahwa ketika prodiakon melakukan pelayanan bagi gereja maupun di lingkungan, sesungguhnya sudah ikut menyejahterakan.
“Menyejahterakan tidak berarti dalam hal materi. Paling tidak, prodiakon bisa menginspirasi orang lain,” tutur Titik.
Dalam pemaparannya, Amin menyoroti tiga kata kunci dalam tema, yakni “bahagia”, “menginspirasi”, dan “menyejahterakan”.
“Bahagia ada di dalam hati. Sukacita terjadi karena Yesus menjadi fokus, pegangan, dan kunci segala sesuatu,” buka Amin sembari menyebut prodiakon adalah pelayan Gereja yang dekat dengan Yesus karena boleh membagikan komuni. “Maka, relasi dengan Yesus seharusnya dihayati sedemikian rupa,” imbuhnya.

Tentang “menginspirasi”, Amin menegaskan prodiakon hendaknya menjadi teladan dan hidupnya teratur secara rohani. Sedangkan tentang “menyejahterakan”, prodiakon hendaknya bermanfaat bagi orang lain.
Amin lantas menyimpulkan, “Kebahagiaan itu dapat dirasakan orang lain. Kalau prodiakon tidak sejahtera secara batin atau tidak bahagia, maka bagaimana kedekatannya dengan Tuhan bisa dipertanyakan.”
Ia pun mengingatkan, para prodiakon punya peran untuk menggerakkan umat di lingkungannya. Salah satu caranya adalah lewat homili. Oleh karena itu, prodiakon mesti terampil memberikan homili dengan modal kemampuan berbicara di depan publik.
Senada dengan Amin, Rm. Merdi mengatakan, “Menjadi inspirasi bukan karena tampilan luar saja, tetapi kita menjadi inspirasi ketika sikap dan karakter kita bisa memberi contoh atau teladan.”
Pada kesempatan ini Rm. Merdi juga mengajak para prodiakon untuk terlibat aktif dalam persiapan Misa di lingkungan maupun ujud keluarga. Salah satu di antaranya, bersama tim paramenta turut menyusun perlengkapan piala yang akan digunakan.
Prodiakon juga diminta menghitung jumlah umat untuk menentukan jumlah hosti yang disediakan. “Silakan berdiri untuk menghitung. Jangan sampai hosti masih banyak, lalu mendatangi lagi umat yang sudah menerima komuni. Kalau dalam Misa Requiem, tidak masalah kalau hostinya tidak cukup,” kata Rm. Merdi.
Ia juga mengingatkan para prodiakon untuk memperhatikan umat berusia lanjut yang duduk di kursi yang disediakan bagi mereka. “Prodiakon menghampiri dan memastikan mereka mendapat hosti. Kalau tidak, itu tidak menyejahterakan,” tegasnya.
Bagi anak-anak yang belum menerima komuni, prodiakon hendaknya tetap lembut ketika meminta mereka bergeser. “Mohon untuk disampaikan ke lingkungan, terutama pembimbing PIA, anak-anak yang belum menerima komuni, menyilangkan tangannya di depan dada supaya bisa kita ketahui,” pesan Rm. Merdi.
Willy Putranta








