Mengembalikan Senyum Anak-Anak Korban Gempa Flores

Pelita136 Views

“Anak-anak sekolah kehilangan ruang belajar dan bermain. Anak-anak yang menjadi masa depan Gereja kini membutuhkan ruang untuk kembali bercanda!” Ungkapan demikian kiranya paling tepat untuk menggambarkan situasi akhir-akhir ini di Boawae, Flores dan beberapa daerah lain sekitarnya. Ada apa dengan mereka?

Tepatnya sejak 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA, daerah-daerah dalam reksa pastoral Keuskupan Agung Ende (KAE), Keuskupan Ruteng, Keuskupan Labuan Bajo, serta wilayah Flores lainnya diguncang gempa bumi berkekuatan M 7,7.

Guncangan terasa relatif lama dan terjadi berulang kali. Gempa Flores yang berpusat di Laut Mbay, Nagekeo ini merobohkan banyak dinding sekolah, rumah warga, dan atap bangunan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dampak yang ditimbulkan sangat masif dan mencakup wilayah yang luas. Akibatnya, proses pemulihan membutuhkan waktu yang relatif lama, baik untuk penanganan trauma psikis anak-anak dan orang dewasa yang rentan, maupun pemulihan fisik bangunan.

Bencana ini menelan korban jiwa dan menyebabkan warga sakit dalam jumlah yang tidak sedikit. Kerusakan parah menimpa rumah tinggal, bangunan gereja, sekolah, rumah sakit, serta gedung layanan umum di wilayah keuskupan-keuskupan tersebut.

Kondisi memprihatinkan ini menggugah solidaritas kemanusiaan. Berbagai individu maupun lembaga pun tergerak untuk ambil bagian dalam meringankan beban sesama melalui dukungan material dan spiritual. Kepada siapakah mereka mengulurkan kasihnya?

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) NTT per 12 September 2026, tercatat korban meninggal langsung sebanyak 48 jiwa, sementara 94 jiwa meninggal di pengungsian. Hingga saat ini, sebanyak 46.461 jiwa (dari total awal yang sempat mencapai 150 ribu jiwa) masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Jumlah tersebut belum termasuk warga yang mengalami trauma dan sakit akibat peristiwa gempa.

Anak-anak yang awalnya mengaku merasa cemas, gelisah, dan takut, pada akhirnya dapat tersenyum kembali serta merasakan kegembiraan dan kelegaan yang mendalam.

Selama masa tanggap darurat (periode 15 Agustus–27 September 2026) berdasarkan keputusan pihak Keuskupan dan Pemerintah Provinsi NTT serta Kabupaten, aktivitas yang melibatkan orang banyak dibatasi. Kegiatan peribadatan di gereja dan proses pembelajaran di sekolah tidak diselenggarakan di dalam ruangan.

Demi keselamatan, kegiatan dialihkan ke luar ruangan yang jauh dari kaca, dinding, atau atap yang berisiko roboh. Seluruh aktivitas tersebut kini berlangsung di tenda-tenda darurat di lapangan terbuka, mengingat guncangan gempa susulan masih terus terjadi meski dengan kekuatan dan intensitas yang lebih kecil.

Dalam rangka memberikan rasa aman sekaligus mengedukasi kewaspadaan bencana bagi anak-anak usia SD dan anak-anak SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Misioner) Paroki Boawae (KAE), saya bersama Tim SEKAMI Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae mengambil tindakan nyata.

Pada 6–10 September 2026, mereka mengadakan kegiatan pemulihan trauma (trauma healing), pendampingan psikososial, dan psikoedukasi bagi anak-anak sewilayah Paroki Boawae. Kegiatan ini berlangsung di Lapangan Asrama Bruder CSA Boawae yang disulap menjadi Ruang Ramah Anak. Materi yang saya bawakan meliputi Bumi Sahabatku, Aku Cinta Flores, Aku Berbagi Kisah, Aku Tangguh dan Ceria, serta Aku Kembali Bahagia.

Program ini bertujuan agar anak-anak dapat menemukan kembali keceriaannya, serta bisa bermain dan belajar dalam lingkungan yang aman. Seluruh materi dikemas secara menarik lewat permainan, sesi berbagi cerita (sharing), bernyanyi, dan dinamika kelompok.

Melalui proses sharing itu, anak-anak yang awalnya mengaku merasa cemas, gelisah, dan takut, pada akhirnya dapat tersenyum kembali serta merasakan kegembiraan dan kelegaan yang mendalam.

Br. Suryadi, CSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *