Berakar, Berdaulat, Menuju Masa Depan

Tradisi De Britto sebagai Akar, Kedaulatan Indonesia sebagai Cita-Cita, dan Masa Depan sebagai Arah Bersama

Papan Tulis228 Views

Agustus selalu membawa kita kembali pada dua ingatan penting, yakni tentang bangsa yang memilih merdeka dan tentang generasi yang terus dipersiapkan untuk mengisi kemerdekaan.

Pada 2026, ingatan itu terasa semakin bermakna ketika Republik Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Sementara itu, pada 19 Agustus 2026, SMA Kolese De Britto Yogyakarta memasuki usia ke-78 dengan tema “Ex Traditio Ad Futurum” (Berangkat dari Tradisi Menuju Masa Depan).

Indonesia membutuhkan pendidikan yang menyiapkan manusia untuk mengisi kemerdekaan.

Sekilas, kedua tema itu berbicara tentang ruang yang berbeda, yang satu adalah cita-cita sebuah bangsa, sementara yang satunya merupakan arah perjalanan sebuah lembaga pendidikan.

Namun, keduanya sesungguhnya bertemu pada pertanyaan reflektif yang sama, yaitu manusia seperti apa yang hendak kita bentuk untuk masa depan?

Kemerdekaan tidak pernah selesai hanya karena sebuah bangsa telah terbebas dari penjajahan. Pada usia 81 tahun, Indonesia masih terus belajar menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.

Kedaulatan bukan hanya perkara batas wilayah atau kemampuan menentukan kebijakan sendiri, tetapi juga keberanian untuk berdiri dengan kekuatan sendiri, mengembangkan pengetahuan, menguasai teknologi, menjaga kebudayaan, dan tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Keadilan tidak cukup dimaknai sebagai kesamaan di atas kertas.

 

Demikian pula keadilan tidak cukup dimaknai sebagai kesamaan di atas kertas. Keadilan menuntut keberpihakan kepada mereka yang lemah, kesempatan yang setara, pendidikan yang bermutu, serta kehidupan yang memungkinkan setiap warga negara tumbuh dan berkembang secara manusiawi.

Sementara kemakmuran bukan sekadar meningkatnya angka ekonomi, melainkan hadirnya kesejahteraan yang dirasakan secara nyata dan merata.

Di sinilah pendidikan menemukan perutusannya. Mengapa? Sebab, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak lahir dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh manusia-manusia yang memiliki kompetensi, hati nurani, kepedulian, keberanian, dan kesediaan untuk melayani.

Kemerdekaan membutuhkan karakter, demokrasi membutuhkan kedewasaan, pembangunan membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu bertanya, untuk siapa kecerdasan dan keberhasilan itu dipersembahkan?

Tradisi adalah akar yang membuat pohon mampu tumbuh tinggi tanpa kehilangan pijakan.

Dalam konteks itulah usia 78 tahun SMA Kolese De Britto menjadi lebih dari sekadar angka. Ex Traditio Ad Futurum mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun dengan memutus hubungan dengan masa lalu. Masa depan justru menjadi kukuh ketika dibangun dari tradisi yang telah teruji dan terus dimaknai kembali.

Ex berarti “berasal dari”. De Britto berangkat dari sebuah tradisi pendidikan yang panjang dan hidup. Traditio, menunjuk pada pewarisan nilai; refleksi, keunggulan, kepedulian, keberanian, dan kepemimpinan yang melayani.

Namun pendidikan tidak boleh berhenti pada pewarisan. Karena itu hadir ad, menuju kepada. Ada arah, ada tujuan, ada panggilan untuk bergerak, dan akhirnya futurum, masa depan sebagai ruang perutusan dan harapan.

Manusia seperti apa yang hendak kita bentuk untuk masa depan?

Tradisi, dengan demikian, bukan museum yang menyimpan masa lalu. Tradisi adalah akar yang membuat pohon mampu tumbuh tinggi tanpa kehilangan pijakan. Dalam semangat Ignasian, refleksi tidak berhenti pada perenungan.

Refleksi semestinya melahirkan aksi. Pengalaman dibaca, dimaknai, kemudian diubah menjadi keputusan dan tindakan. Karena itu, pendidikan De Britto tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjawab persoalan, tetapi perlu membentuk pribadi yang berani hadir dan ikut menyelesaikan persoalan masyarakat.

Di sinilah dua perayaan pada Agustus 2026 tersebut saling menerangi. Indonesia membutuhkan pendidikan yang menyiapkan manusia untuk mengisi kemerdekaan, De Britto memiliki panggilan untuk membentuk manusia yang mampu membawa nilai-nilai tradisinya ke dalam tantangan masa depan.

Tantangan itu tentu tidak sederhana, karena dunia sedang bergerak cepat. Kecerdasan buatan, perubahan teknologi, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, polarisasi, dan perubahan budaya menghadirkan pertanyaan baru yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya.

Karena itu, mempertahankan tradisi tidak berarti mempertahankan semua hal secara kaku. Justru kesetiaan pada tradisi menuntut keberanian untuk menafsirkan nilai lama dalam konteks baru.

Anak-anak muda De Britto hari ini akan hidup di dunia yang berbeda. Mereka mungkin menghadapi pekerjaan yang belum ada sekarang, teknologi yang belum sepenuhnya kita kenal, dan persoalan kemanusiaan yang semakin kompleks.

Yang perlu diwariskan kepada mereka bukan sekadar jawaban, melainkan kemampuan untuk terus bertanya, berefleksi, membedakan yang benar dari yang sekadar menarik, serta mengambil keputusan demi kebaikan bersama.

Maka, momentum pada pembukaan menjelang Dasawindu ini, De Britto seharusnya tidak hanya menjadi perayaan perjalanan 78 tahun menuju 80 tahun ke depan. Akan tetapi perlu menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah perjalanan; tradisi membentuk karakter, karakter membentuk masa depan, dan masa depan dimulai dari hari ini.

Pada akhirnya, kemerdekaan Indonesia dan perjalanan pendidikan De Britto bertemu pada satu keyakinan, masa depan adalah tanggung jawab bersama. Indonesia tidak cukup hanya diwarisi, ia harus terus diperjuangkan. De Britto tidak cukup hanya dikenang, nilai-nilainya harus terus dihidupkan dengan perjuangan.

Delapan puluh satu tahun Indonesia mengajarkan kita untuk terus merawat kemerdekaan. Tujuh puluh delapan tahun De Britto menjelang Dasawindu mengingatkan kita untuk terus merawat tradisi. Keduanya bermuara pada tugas yang sama, membentuk manusia yang mampu membawa masa lalu sebagai kebijaksanaan, masa kini sebagai tanggung jawab, dan masa depan sebagai perutusan.

Sebab, berangkat dari tradisi bukan berarti berjalan mundur. Ex Traditio Ad Futurum berarti berakar untuk bertumbuh, berefleksi untuk bertindak, dan belajar hari ini agar mampu menghadirkan Indonesia yang lebih berdaulat, adil, dan makmur di masa depan, untuk kemuliaan Allah yang lebih besar.

Chr. Danang Wahyu Prasetio
(Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *