Apa yang terjadi ketika hidup menghadapkan kita pada peristiwa yang tidak masuk akal—tanpa alasan yang jelas, tanpa kesempatan membela diri, dan tanpa jawaban yang memuaskan?
Dalam tulisan “Tuhan dalam Hidup yang Absurd”, Aman Aslam, SJ merefleksikan pengalaman pribadinya ketika ditolak masuk oleh pihak imigrasi Malaysia. Meski bepergian bersama rekan-rekan Jesuit dengan tujuan dan dokumen perjalanan yang sama, hanya dirinya yang menjalani pemeriksaan panjang, ditahan selama dua hari, lalu dipulangkan ke Jakarta tanpa pernah memperoleh penjelasan yang jelas. Pengalaman tersebut mengingatkannya pada tokoh Joseph K. dalam novel The Trial karya Franz Kafka, yang terjebak dalam proses hukum absurd tanpa mengetahui kesalahannya.
Namun, pengalaman itu tidak berhenti sebagai kisah tentang penolakan. Di ruang penahanan, Aman Aslam, SJ berjumpa dengan orang-orang yang juga ditolak masuk: mereka yang telah menjual harta, berutang demi mencari pekerjaan, atau menempuh perjalanan jauh untuk bertemu keluarga. Bagi sebagian dari mereka, penolakan tersebut bukan sekadar perubahan rencana, melainkan kehancuran harapan dan masa depan.
Melalui perjumpaan itu, pembaca diajak melihat bahwa kehidupan memang tidak selalu menawarkan penjelasan yang masuk akal. Akan tetapi, di tengah absurditas, kekecewaan, dan ketidakadilan, hati kita dapat dibuka untuk mengenali penderitaan sesama. Barangkali Tuhan tidak selalu hadir dengan menghapus persoalan secara langsung, tetapi melalui perjumpaan yang menumbuhkan belas kasih, solidaritas, dan keberanian untuk memandang mereka yang ditolak sebagai manusia yang tetap berharga.
Temukan refleksi selengkapnya dalam Majalah ROHANI Edisi Juli 2026 dengan tema:
Sahabat dalam Tuhan
📬 Pemesanan dan langganan:
Anang Pramuriyanto
📱 0812-2522-5423
Felix Kris
📱 0895-4139-26111
Majalah tersedia dalam edisi cetak dan digital. Harga edisi cetak Rp20.000,00, belum termasuk ongkos kirim.
🕊️ Mari bagikan informasi ini kepada keluarga, sahabat, komunitas, dan siapa pun yang ingin memperluas wawasan iman serta menemukan karya Tuhan di tengah keindahan maupun kerapuhan hidup.
Selamat membaca. Tuhan memberkati!
Felix Kris Alfian








