Doa Pengantar Jiwa kepada Kristus

Rektor Komunitas La Fraternité de Montligeon, Prancis Kunjungi Keuskupan Labuan Bajo

News955 Views

Manggarai Barat. Pada masa Prapaskah 2026, Keuskupan Labuan Bajo mendapat kesempatan istimewa dikunjungi Rm. Paul Denizot, CSM, Rektor Komunitas La Fraternité de Montligeon, Prancis pada Kamis-Minggu, 19-22 Maret 2026.

Dalam kunjungan ini, ia membagikan kekayaan refleksi imannya tentang devosi bagi keselamatan jiwa-jiwa. Ia terlebih dahulu bertemu dengan Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan para imam kuria untuk menceritakan komunitas yang dipimpinnya di Prancis.

La Fraternité de Montligeon adalah sebuah Persekutuan doa yang didedikasikan bagi keselamatan jiwa-jiwa yang sudah meninggal. Persaudaraan Montligeon ini diresmikan Paus Leo XIII pada tahun 1893 yang bertujuan untuk mendoakan jiawa-jiwa di api penyucian, terutama mereka yang tidak pernah didoakan.

Sekarang, sudah ada 1.250 komunitas yang tersebar di lebih dari 30 negara di dunia. Setiap hari di Montligeon, komunitas persaudaraan ini mempersembahkan doa bagi keselamatan jiwa-jiwa melalui Bunda Pembebas sebagai perantara permohonan kepada Kristus Penyelamat.

Selain itu, Ekaristi Abadi juga dipersembahkan setiap hari di Basilika Montligeon yang didedikasikan khusus sebagai tempat ziarah dan pusat doa untuk keselamatan orang-orang yang sudah meninggal.

“Doa untuk orang yang sudah meninggal sangat penting, terutama di tengah dunia yang semakin sekuler saat ini. Kita memberikan kesaksian bahwa Allah Penyelamat itu ada, dan kehidupan kekal disediakan-Nya bagi semua orang yang percaya,” tutur Rm. Paul.

“Lebih dari itu,” lanjutnya, “dalam praktik doa bagi orang yang sudah meninggal, kita yakin kalau kita mendoakan orang-orang yang telah meninggal, mereka juga akan mendoakan kita yang masih hidup. Sebab, sekalipun sudah meninggal, mereka tetap menjadi bagian dari kita dalam persaudaraan iman dalam konteks Gereja peziarah, Gereja penyucian, dan Gereja jaya.”

Rm. Paul berbicara dengan tiga kelompok, yakni dengan para seminaris St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo (Jumat, 20 Maret 2026), dengan anggota komunitas religius dan anggota komunitas rohani (Sabtu, 21 Maret 2026).

Rm. Paul Denizot, CSM bertemu dengan Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan para imam kuria untuk menceritakan komunitas yang dipimpinnya di Prancis.

Ia membagikan refleksinya mengenai pentingnya devosi bagi keselamatan jiwa orang-orang yang sudah meninggal dunia. Ia menghubungkannya dengan keyakinan teologis mengenai api penyucian dan eskatologi.

“Doa bagi keselamatan jiwa-jiwa mengungkapkan pengharapan iman akan kehidupan kekal. Kita percaya dan berharap dalam iman bahwa mereka mengalami keselamatan kekal. Maka, doa-doa kita sangat dibutuhkan, tentu bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk keselamatan kita yang masih hidup. Sebab, kehidupan kekal itu kita alami juga dalam kehidupan sekarang di dunia ini. Karena itu, sekalipun doa untuk orang yang sudah meninggal telah menjadi kebiasaan Gereja, atau bahkan budaya-budaya kita, tetapi makna iman, harapan, dan kasih harus ditekankan dan mendasari keyakinan dan praktik-praktik tersebut,” jelas Rm. Paul.

Dalam perjumpaan dengan tiga kategori umat ini, begitu banyak pertanyaan dan sharing yang disampaikan, terutama praktik budaya terkait penghormatan terhadap leluhur yang sudah meninggal.

Rm. Paul menjelaskan bahwa setiap budaya mempunyai cara yang unik dan berbeda dalam memberikan penghormatan terhadap leluhur, seperti membawa bunga ke makam, membawa makanan, membawa perhiasan atau barang yang disukai oleh orang yang sudah meninggal.

Sekalipun demikian, tegas Rm. Paul, “Kita tidak bisa meminta orang yang sudah meninggal melihat nasib kita, atau masa depan kita. Sebab, mereka juga masih membutuhkan doa-doa kita, dan satu-satunya yang mengetahui hidup kita dan masa depan kita adalah Allah sendiri. Dan, hanya ada satu korban untuk keselamatan, yakni korban Kristus sendiri. Doa-doa kita bertujuan untuk mengantar jiwa-jiwa kepada Kristus. Inilah inti iman kita.”

Salah seorang peserta dari komunitas Rohani, Adi Hamut, merasa amat bersyukur mendapat kesempatan indah mendengarkan sharing iman dari Rm. Paul. “Refleksi Rm. Paul mengenai doa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal sungguh menjernihkan pemahaman dan praktik saya dalam menghormati dan mendoakan orang yang sudah meninggal. Bahwasannya, penghormatan terhadap orang yang meninggal dalam budaya Manggarai sudah biasa. Juga dalam doa dan Ekaristi. Tetapi, Rm. Paul memberi penekanan pada makna doa dalam hubungan dengan api penyucian (purgatory) dan kehidupan kekal (eschatology). Semua doa kita diarahkan pada satu-satunya Pembebas dan Penyelamat, yakni Yesus,” ungkapnya.

Sementara itu, Mgr. Maksi menyampaikan terima kasih kepada Pater Paul atas kunjungan yang bermakna sebagai kesempatan peneguhan iman bagi umat pada masa Prapaskah ini.

“Pendalaman iman yang diberikan Rm. Paul sungguh membantu umat kami untuk memahami dan menghayati iman mereka dengan baik. Kami berharap, komunitas Persaudaraan Montligeon bisa terbentuk di Keuskupan Labuan Bajo sehingga menjadi bagian dari komunitas doa yang penting untuk keselamatan jiwa-jiwa, terutama mereka yang diabaikan dan tidak pernah didoakan,” harap Mgr. Maksi.

Vinsen Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *