Animator Laudato Si’ Surabaya Makin Tergugah Rawat Ibu Bumi

News1194 Views

Mojokerto. “Bukan hanya saya yang ditahbiskan sebagai uskup pada 22 Januari 2025, tetapi juga para animator Laudato Si’ Surabaya,” tutur Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo di hadapan 101 peserta Retret Laudato Si’ yang diselenggarakan Gerakan Laudato Si’ Indonesia Keuskupan Surabaya pada Sabtu – Minggu, 7 – 8 Februari 2026 di Rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto, Jawa Timur.

Ucapan Bapa Uskup Keuskupan Surabaya yang memilih moto Diligere Sicut Christus Dilexit (“Mencintai seperti Kristus Mencintai”) ini mengingatkan bahwa pada saat penahbisannya sekitar 150 relawan Laudato Si’ dari berbagai latar belakang dan paroki di Kota Surabaya menjadi relawan kebersihan dan melakukan kampanye Laudato Si’ sepanjang pekan rangkaian Misa Tahbisan pada 22 Januari 2025, Vesper Agung (21 Januari), hingga Misa Pontifikal (23 Januari 2025).

Kegiatan dua hari di kompleks rumah retret para Suster SSPS itu sendiri mengambil tema “Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’”. Kegiatan ini diikuti 101 peserta utusan dari 24 paroki, tarekat, sekolah, karya kesehatan, dan yayasan Katolik seluruh Keuskupan Surabaya.

Peserta terdiri dari para Suster SND dari Lasem, utusan umat dari paroki-paroki di kota Surabaya, hingga para guru dan staf kesehatan di Blitar. Puluhan OMK juga tampak di antara para peserta. Keragaman ini menjadikan pelatihan ini kaya akan interaksi dan dinamika.

Kegiatan yang diketuai Sr. Sisilia, SSPS ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan pemahaman dasar peserta akan pesan Ensiklik Laudato Si’, memahami akar masalah krisis lingkungan saat ini secara kritis, membangun spiritualitas Laudato Si’, serta mengembangkan keterampilan praktis ber-Laudato Si’.

Hari pertama kegiatan mengambil tema “Melihat dan Menimbang: Memahami Krisis Rumah Bersama”. Kegiatan dimulai Sabtu pagi pukul 09.00 dengan pembukaan dan sesi pertama oleh Cyprianus Lilik Krismantoro Putro selaku Ketua Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia (TKN GLSI) dengan mengajak peserta menjawab bersama tema: “Apa yang Sedang Terjadi pada Rumah Kita Bersama?” 

Dalam sesi ini peserta diajak untuk memahami batas-batas planet bumi serta kontekstualisasinya dalam situasi Jawa Timur. Tiga skenario krisis ekologis di masa depan diajukan dan ditutup dengan undangan membangun praksis pertobatan ekologis dalam inspirasi “Doughnut Economics” dari Kate Raworth.

Sesi kedua bertajuk “Akar Manusiawi dari Krisis Ekologis” juga dibawakan oleh pembicara yang sama dan mengajak peserta melakukan pembongkaran asumsi tentang krisis ekologis dan melihat empat akar krisis ekologis sebagaimana disampaikan dalam Ensiklik Laudato Si’, yakni dominasi paradigma teknokratik, antroposentrisme berlebihan, relativisme praktis, serta krisis moral dan spiritual masyarakat.

Pelatihan ini bisa mengubah cara berpikir, cara hidup, dan mengubah orang semakin menjadi saudara dengan alam dan sesama ciptaan.

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo mengejutkan peserta dan panitia dengan hadir mendadak serta menyapa semua peserta. Mgr. Didik, demikian ia akrab disapa, mengajak peserta untuk segera bertindak dan memulai dari hal-hal yang peserta semua bisa. “Mulailah segera dan mulailah apa adanya di basis masing-masing,” pesannya tegas.

Mgr. Didik juga menyampaikan komitmen ekologis Keuskupan dengan pengembangan Laudato Si’ Center Keuskupan Surabaya seluas 10 hektare dengan fokus utama konservasi tanaman-tanaman langka.

Selain itu, ia menyampaikan agenda untuk menyelenggarakan kegiatan Yubileum Laudato Si’ dalam rangka 800 tahun Santo Fransiskus Asisi yang dirayakan Gereja Universal pada 10 Januari 2026 – 10 Januari 2027. Selanjutnya, Mgr. Didik juga menyampaikan rencana surat gembala terkait pembumian Ensiklik Laudato Si’ di tengah kehidupan umat di Keuskupan Surabaya.

Sementara itu, Rm. Markus Marcelinus Hardo Iswanto, CM selaku Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Surabaya dan inisiator utama kegiatan ini kemudian mengajak peserta menggali inspirasi iman melalui sesi “Apa yang Diajarkan Iman Kita?”. Rm. Harda mengajak mengenal ajaran-ajaran iman Katolik yang menyerukan pembelaan dan pelestarian kehidupan.

Selanjutnya, peserta diajak mengolah kesadaran kritis tentang isu keberlanjutan melalui Sesi Analisis Sosial Ekologis oleh Cyprianus Lilik Krismantoro P. Kemudian, Sr. Sisilia, SSPS dan Sr. Suhartati, OSU mengajak peserta untuk berefleksi dan berdoa malam.

Hari kedua mengangkat tema “Bertindak: Komitmen Ekologis dan Tindakan Nyata”. Kegiatan dimulai dengan Misa yang dilanjutkan dengan pemberkatan dan aksi bersama penanaman 30 bibit pohon di lahan terbuka rumah retret. Kegiatan ini menandai bukan hanya pertobatan ekologis pribadi, melainkan membangun aksi partisipatif seluruh animator.

Kristien Yuliarti dari TKN GLSI membagikan pengalaman-pengalaman konkret dalam aksi Laudato Si’ dan mengugah peserta. Sr. Stefani, SSpS dengan sangat hidup dan meriah membekali peserta dengan materi spiritualitas ekologis yang konkret dan kuat.

Pelatihan ditutup dengan presentasi rencana aksi dari setiap Kevikepan dan kelompok kategorial. Perencanaan ini memastikan bahwa setelah kembali dari Claket, peserta memiliki program kerja nyata untuk diimplementasikan di komunitas lokal mereka.

Alumni kegiatan ini bisa masuk ke paroki-paroki dan menjadi penggerak utama Laudato Si’ di paroki masing-masing.

“Acara ini seharusnya berlangsung tiga hari karena pentingnya materi perlu dibahas dengan lebih mendalam,” usul Gaby, peserta muda dari paroki Kepanjen, Surabaya yang juga pegiat seni merangkai bunga.

Sementara itu, Agnes Fitriana, guru kelas 4 SDK Santa Maria Blitar, merasa tertantang bagaimana membawa pesan Laudato Si’ ke tengah-tengah rekan kerjanya. “Padahal, secara pribadi saya merasa belum mampu membangun gaya hidup yang ramah lingkungan,” akunya.

Romo Harda secara khusus juga mendorong agar alumni kegiatan ini bisa masuk ke paroki-paroki dan menjadi penggerak utama Laudato Si’ di paroki masing-masing. Ia berharap agar segenap pegiat kemanusiaan, kebencanaan, serta keadilan dan pedamaian di Keuskupan Surabaya dapat makin bersinergi dalam satu reksa pastoral Keuskupan Surabaya.

Sementara itu melalui pesan videonya, Rm. Marthen Jenarut, Pr yang sedang berada di Putussibau, Keuskupan Sintang, selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia secara khusus mengapresiasi kegiatan ini dan Keuskupan Surabaya yang dengan masif melakukan animasi tentang keadilan ekologis berdasarkan nilai-nilai Laudato Si’.

Ia juga berharap agar upaya ini tidak hanya berhenti pada aksi ekologis semata tetapi harus bergerak di dalam prinsip-prinsip keadilan sosial, karena krisis ekologis juga berarti krisis kemanusiaan. “Pelatihan ini bisa mengubah cara berpikir, cara hidup, dan mengubah orang semakin menjadi saudara dengan alam dan sesama ciptaan,” pandang Rm. Marthen.

Bagi Gerakan Laudato Si’ Indonesia sendiri, perjumpaan ini menjadi bagian dari tindak lanjut Pertemuan Nasional 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ yang diselenggarakan pada 5 – 7 September 2025 di Sentul City, Bogor dengan LSI Chapter Keuskupan Bogor selaku tuan rumah.

Kegiatan ini sendiri menghasilkan tiga rekomendasi, yakni (1) memprioritaskan animasi Laudato Si’ di keuskupan-keuskupan melalui training dan retret, (2) menyapa orang muda Katolik, dan (3) penataan organisasi dan database jejaring animator Laudato Si’ di seluruh Indonesia.

Kegiatan tindak lanjut serupa telah diselenggarakan di Sentrum Pastoral Kevikepan Makassar pada 6 – 7 Januari 2026 dan akan berlangsung di Jakarta pada April 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *