Bantul. Festival Pesparani 2023 sukses diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kabupaten Bantul pada Sabtu, 13 Mei 2023 di kompleks Gereja St. Yakobus Klodran, Bantul, D.I. Yogyakarta.
Andriana Wulandari, SE selaku Ketua Panitia memaparkan, Festival Pesparani adalah bagian dari kegiatan pembinaan mental dan spiritual umat Katolik sekaligus salah satu perwujudan iman Katolik dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
“Festival Pesparani adalah bagian tidak terpisahkan dari ibadah gerejani sekaligus merupakan ungkapan syukur serta menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran beragama, kehidupan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” papar Ndari, sapaan akrabnya.
Selain itu, Festival Pesparani juga merupakan sarana peningkatan sumber daya manusia di bidang seni budaya yang bernapaskan kekatolikan sekaligus sumber motivasi dan inspirasi untuk mempererat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan di tengah-tengah kebinekaan dalam rangka meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Maksud dan tujuan pelaksanaan Festival Pesparani tahun ini adalah memberi kesempatan umat Katolik yang berdomisili di Kabupaten Bantul untuk berpartisipasi dengan mengikuti dan mendukung kegiatan Festival Pesparani.
Ndari, Ketua Komisi B DPRD Provinsi DI Yogyakarta ini, melaporkan kepada Wakil Bupati Bantul, Joko B. Purnomo, dan mengucapkan terima kasih karena pada tahun kedua penyelenggaraannya, Festival Pesparani mendapatkan support pendanaan dari Pemerintah Kabupaten Bantul sebesar 50 juta rupiah.
Selanjutnya, Ndari berharap pelaksanaan tahun depan lebih semarak, peserta tidak hanya per paroki, tetapi juga per lingkungan. Maka, tahun depan perlu diperjuangkan kembali untuk menambah anggaran dana dari Pemkab Bantul. “Total anggaran untuk tahun ini sekitar 100 juta rupiah. Ini bisa jadi gambaran tahun depan bisa lebih dari 100 juta,” sebutnya.
Ndari kemudian memerinci jumlah peserta untuk setiap kategori. Paduan Suara Dewasa Campuran dan Paduan Suara OMK diikuti sekitar 200 orang peserta; peserta kategori Mazmur Anak, Mazmur Remaja, Mazmur OMK berjumlah 40 orang; peserta Tutur Kitab Suci adalah 14 orang; dan peserta Cerdas Cermat Anak/Sekolah Dasar dan Cerdas Cermat Remaja/SMP berjumlah 60 orang.
Karena perlombaan ini berupa festival, maka nantinya akan dicari tiga penampilan terbaik yang akan maju dalam pelaksanaan Pesparani di tingkat DIY.

Manusia adalah makhluk seni
Sementara itu, Rm. AR Yudono Suwondo, Pr selaku Romo Vikep Kevikepan Jogja Barat menyatakan bahwa Pesparani dimaksudkan sebagai bentuk kehadiran negara bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Katolik. “Ini adalah acara yang sangat strategis untuk memperlihatkan bahwa negara hadir di tengah-tengah umat dari semua agama,” ujar Rm. Wondo.
Sebelum Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) dikembangkan selama 6 tahun terakhir, sudah ada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) bagi umat Islam dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) bagi umat Kristen Protestan. Oleh karena itu, Rm. Wondo berharap kehadiran negara ini masuk ke semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. “Kita bersyukur hal itu sudah sangat ditunjukkan oleh negara,” lontarnya.
“Sebagai romo yang tidak boleh berpolitik,” lanjut Rm. Wondo, “saya mengimbau supaya yang terpilih adalah mereka yang memiliki perhatian penuh kepada masyarakat Indonesia yang majemuk.”
Bagi Rm. Wondo, Pesparani bermakna sangat dalam. Jiwa manusia tidak boleh dilepaskan dari seni, karena manusia adalah makhluk seni, bukan robot. Bedanya manusia dan robot adalah dalam hal seni atau art. “Tanpa seni, manusia akan kaku dan lurus saja, tidak belok-belok (dinamis-Red.), seperti celeng atau babi hutan. Tetapi dengan seni, manusia dapat berbudi mulia atau luhur. Dengan seni, orang akan bisa mengolah raga, rasa, dan jiwa,” tutur Rm. Wondo.
Kemudian, Rm. Wondo menceritakan Rm. Karl-Edmund Prier, SJ yang pada Kamis, 11 Mei 2023, ia menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. “Satu hal sangat bagus. Seni, dalam hal ini seni musik, adalah sarana healing. Rm. Prier menemukan bentuk seni musik di Mentawai yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Musik Mentawai, Sunda, atau Jawa, irama-iramanya sebagai sarana healing untuk membuat jiwa manusia yang kekeringan menjadi lebih tenang,” papar Rm. Wondo.
Dengan seni, imbuh Rm. Wondo, orang juga dapat memuji Tuhan. Ia mengaku mengagumi karya-karya kaligrafi di masjid-masjid kuno di Indonesia. “Itu kalau tidak ada seni tidak mungkin. Di tempat-tempat ibadah umat Hindu dan Buddha seninya sangat tinggi, pahatannya sangat luar biasa. Di balik setiap jenis kesenian, ada rasa yang harus dilatih,” urainya.
Rm. Wondo pun menyambut baik dan gembira bahwa Pesparani adalah sarana untuk memfasilitasi generasi muda sebagai cara untuk membuat generasi muda terbina dan tidak liar. “Semoga dengan Pesparani ini, anak-anak kita memiliki kegiatan sehingga jiwa mereka terdidik dan terbentuk baik,” harapnya.
Nasionalisme dalam Pesparani
Pesparani bukan hanya kegiatan gereja, tetapi juga pemerintah daerah. Itulah yang ditegaskan Joko B. Purnomo sebagai Wakil Bupati Bantul. Pemerintah Kabupaten Bantul, tegasnya, tetap memberikan support atau dukungan kepada kegiatan umat, dalam hal ini Pesparani.
Pihaknya memahami dan memandang bahwa Festival Pesparani merupakan bagian dari konsolidasi umat dalam rangka mempertebal iman dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Pesparani juga merupakan konsolidasi dalam rangka menampilkan firman Tuhan untuk dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam mewujudkan kesejahteraan. “Pesparani juga sebagai bagian konsolidasi dalam rangka membangun persaudaraan kita semuanya, antarumat Katolik dan antarsesama,” tambah Joko.

Joko melanjutkan, “Ketika kami dilantik sebagai bupati dan wakil bupati, Rm. Wondo selalu memberikan bimbingan, arahan, kritik, dan saran bagaimana mewujudkan pembangunan yang baik dan dalam mewujudkan kebersamaan. Apa yang beliau sampaikan kepada kami, puji syukur, puji Tuhan, kami laksanakan sehingga hari ini tidak ada lagi intoleransi di Kabupaten Bantul.”
Menurut Joko, itulah cita-cita Bung Karno tentang Bhinneka Tunggal Ika. “Dalam penjabaran sila pertama Pancasila, seluruh umat diberikan kewenangan untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing,” tegas Joko seraya menambahkan bahwa di dalam Pesparani ada nasionalisme yang sangat kuat. Buktinya, saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, 100% umat di dalam gereja menunjukkan sikap hormat.
Joko pun membuka diri terhadap kritik dan saran dari para romo paroki di wilayah Kabupaten Bantul. Ketika panitia audiensi di kantor Pemkab Bantul, Joko mendengar bahwa Pesparani digelar dalam tujuh rangkaian acara. “Kalau begitu, 50 juta tidak cukup,” kata Joko mengulang pernyataannya di depan panitia. “Maka, kami berharap untuk tahun-tahun berikutnya, kita perlu melakukan pembicaraan awal.”
Saran Joko, proposal yang diajukan perlu di-brainstorming-kan agar Pemkab Bantul bisa memfasilitasi kegiatan umat beragama yang ada di Kabupaten Bantul ini. “Persiapkan Pesparani tahun depan, dengan harapan Pesparani ini adalah betul-betul kegiatan kita semua, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan masyarakat,” tandasnya.








