Yogyakarta. Program Wartawan Cilik (Warcil) di SD Marsudirini Yogyakarta kini telah berjalan selama tiga tahun dan terus menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan budaya literasi melalui kegiatan menulis dan membaca. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari para guru pendamping hingga Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta.
Dalam acara Bedah Buku Warcil dan Dongeng Murid yang diadakan di sekolah pada Selasa, 28 Oktober 2025, beberapa tokoh dan siswa berbagi pengalaman seputar proses menulis dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
“Yang paling penting pertama adalah rasa cinta pada membaca. Karena dari membaca lahir kemampuan menulis. Setiap penulis pasti pembaca,” ujar Y.B. Margantoro, pegiat literasi yang menjadi salah satu pendamping program. Ia menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian berekspresi melalui tulisan.
Selama tiga tahun berjalan, SD Marsudirini telah menerbitkan tujuh buku karya siswa, termasuk seri Wartawan Cilik jilid I–III, serta Kumpulan Dongeng Anak. Tahun ini, sekolah bersiap meluncurkan Wartawan Cilik jilid IV sebagai bagian dari kelanjutan program literasi yang konsisten.
F.X. Oktaf Laudensius, S.Si., M.M. selaku Kepala SD Marsudirini Yogyakarta menjelaskan, awalnya anak-anak memiliki potensi kuat dalam bercerita secara lisan. “Kami mencoba mengembangkan kemampuan itu ke dalam bentuk tulisan. Tidak mudah memotivasi anak-anak zaman sekarang untuk mencintai membaca dan menulis, tapi hasilnya luar biasa,” ungkapnya.
Selain program Warcil, sekolah juga memiliki kegiatan Buku Refleksi yang kini berkembang menjadi Diary Marsudirini, serta kegiatan literasi dalam Projek P5 Kurikulum Merdeka.
Dalam sesi berbagi pengalaman, para penulis cilik menceritakan proses mereka menulis dan mewawancarai narasumber penting di Yogyakarta.
Ruth Chatarina Della B., salah satu penulis Wartawan Cilik II, mengisahkan pengalamannya saat mewawancarai Kepala Dinas Kesehatan Yogyakarta. “Awalnya grogi banget karena yang diwawancarai orang penting. Tapi saya belajar mengumpulkan keberanian. Triknya sederhana, yaitu berdoa agar tenang, lalu berani memulai. Karena keberhasilan selalu diawali dengan keberanian,” tuturnya.

Sementara itu, Silvester Jason Narendra Manik, penulis Wartawan Cilik III, bercerita tentang wawancaranya dengan Umi Akhsanti, S.T, M.T., Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta. “Waktu itu tangan sampai gemetaran, tapi setelah dijalani, ternyata menyenangkan sekali,” ceritanya sambil tertawa.
Dari sisi karya fiksi, Yocelin Candella E.S., penulis Kumpulan Dongeng Anak, menulis cerita tentang seekor kelinci dengan pesan moral untuk tidak sombong dan tetap menghargai permainan tradisional. “Aku sering menulis di buku tulis di rumah. Waktu tahu tulisanku diterbitkan jadi buku, aku terharu banget,” ungkapnya.
Selanjutnya, Budi Santosa Asrori, S.E., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi SD Marsudirini.
“Menulis itu bukan hanya tugas sekolah, tapi bagian dari pembentukan karakter ilmiah dan reflektif. Apa yang ditulis anak-anak hari ini akan menjadi rekam jejak berpikir mereka di masa depan,” paparnya.
Ia pun melanjutkan, “Budaya membaca dan menulis adalah kunci membangun masyarakat cerdas dan beradab. Jika dikembangkan bersama dalam interaksi sosial dan pendidikan, keduanya akan melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi positif bagi masyarakat.”
Program Warcil kini menjadi inspirasi bagi banyak sekolah lain di Yogyakarta. Rencananya, Dinas Pendidikan akan mendorong penerapan kegiatan serupa di lebih banyak satuan pendidikan dasar. Menurut Budi menulis bukan sekadar kegiatan akademis, tetapi juga modal berharga untuk menumbuhkan daya refleksi dan kreativitas. Melalui tulisan, ide dan pengalaman dapat terdokumentasi dengan baik serta menjadi sumber pembelajaran bagi diri dan orang lain.
Para pendamping juga memberi motivasi kepada generasi berikutnya. Basilius Agung W., S.P., guru SD Marsudirini Yogyakarta yang turut mendampingi para siswa dalam menulis, menyebutkan proses literasi mengajarkan disiplin, imajinasi, dan ketekunan. “Gagal itu penting. Justru dari kegagalan, anak-anak belajar menghadapi tantangan dengan sabar,” katanya.
Henrikus Bima








