Tutup Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi, PML Luncurkan Madah Bakti 2025

News1278 Views

Yogyakarta. Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta dengan tema “Masihkah Kita Peduli dengan Budaya Sendiri?” pada 9-11 Juli 2025 di Auditorium Puskat sudah selesai.

Kongres ini menghasilkan lima keputusan penting yang dibacakan langsung oleh Elisabeth Twitien Sezi Colasina, Pimpinan PML sekaligus tuan rumah pelaksanaan kongres, di depan peserta dan para pembicara kongres, .

Keputusan ini ditandatangani delapan saksi, di antaranya Elis sendiri, Rm. Fransiskus Yance Sengga, Pr (Pengurus Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia/KWI); para narasumber yakni Gregorius Gerald Pratomo, Patrick J.D. Wijnhamer, B.Mus., M.Mus.Ed., Fero Aldiansyah Stefanus, Mikael Ferino Suharsa; serta Petrus Djoko Trimartanto dan Yos Lasar sebagai perwakilan peserta kongres.

Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta merayakan 54 tahun dalam melayani umat melalui karya lagu-lagu Inkulturasi lewat Madah Bakti.

Keputusan dari kongres tersebut yakni: 1) Madah Bakti lebih lengkap dengan lagu-lagu yang lebih segar dengan menyesuaikan diri dengan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020; 2) PML akan mengembangkan kerja sama yang dialogis dalam semangat ekumene; 3) Membuka kerja sama yang berkesinambungan dengan komisi-komisi liturgi di setiap keuskupan untuk bersama-sama menjawab kebutuhan pastoral musik liturgi; 4) Sebagai bentuk kepedulian, PML memiliki panggilan moral untuk mengembangkan musik inklusif yang menjadi perjumpaan Injil dan budaya di Gereja lokal; dan 5) Menjawab semua kebutuhan umat Katolik yang beragam terhadap musik liturgi pada umumnya dan secara spesifik terhadap musik liturgi Inkulturasi.

Acara diakhiri dengan Misa Syukur yang sekaligus untuk merayakan 54 tahun PML dalam melayani umat melalui karya lagu-lagu Inkulturasi lewat Madah Bakti. Misa dipimpin Rm. Yance  dengan konselebran Rm. Vincentius Dus, MSF dari Keuskupan Agung Samarinda serta Rm. John Ghono, SVD dari Keuskupan Agung Ende. Mayoritas lagu inkulturasi yang digunakan dalam Misa Syukur ini diambil dari Madah Bakti.

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Soli Deo Gloria menampilkan dua belas lagu inkulturasi dari Madah Bakti.

Malamnya, kongres ditutup dengan tampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Soli Deo Gloria Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) angkatan 2024 Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta yang menampilkan dua belas lagu inkulturasi dari Madah Bakti dengan iringan organ dan musik asli dari lagu tersebut oleh tim musik PML.

Di sela pentas, Elis meluncurkan buku Madah Bakti edisi 2025 yang sesuai dengan TPE 2020 dengan tambahan pokok tentang doa anak untuk lingkungan, doa remaja menghadapi masa tumbuh kembang ke dewasa, doa di era digital, dan doa untuk bumi (Laudato Si’).

Selain itu, PML juga meluncurkan buku Mazmur Tanggapan Alternatif dan Alleluya guna membantu pemazmur dalam melagukan mazmur dengan cara yang lebih mudah, karena dibawakan dengan lagu berirama/secara ritmis agar menghidupkan dalam menyanyikannya. .

Danan Murdyantoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Sesuai arahan prof. Johan Salim, seyogyanya hasil kongres ini jelas arahnya. Apakah hasilnya adalah untuk koreksi diri ke PML atau ke luar untuk kepentingan seluruh gereja kita untuk menghadapi suatu permasalahan yang sedang terjadi.
    Yang pasti dengan diluncurkannya Madah Bakti edisi lengkap 2025, hasil kongres ini akan bisa meredam konflik terpendam selama bertahun-tahun antara pengaruh MB dan PS.
    Dan yang lebih utama lagi bagaimana PML bisa berperan nyata menyosialisasikan lagu² liturgi inkulturasi yang ditambahkan ke dalam MB 2025 itu bisa dipraktekkan oleh seluruh umat katolik di Indonesia, sesuai tema yang menyadarkan rasa cinta budaya yang kaya di negri kita untuk semakin memuliakan Allah.