Belas Kasih Santo Martinus Diteladani Umat Lingkungan Sengkan, Paroki Banteng

News1415 Views

SLEMAN-Ada acara unik dan menarik di lakukan Lingkungan St. Martinus, wilayah St. Don Bosco, Sengkan, Paroki Keluarga Kudus Banteng, Sleman, D.I. Yogyakarta.  Acara yang berlangsung pada 10 November 2024 lalu itu adalah pesta nama pelindung Lingkungan Sengkan.

Mereka ingin lebih dalam meneladan Santo Martinus dan mewujudnyatakan dengan menghadirkan puluhan teman-teman Yogyakarta yang kurang beruntung dalam hal komunikasi baik itu bisu, tuli dan netra. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian umat pada mereka.

Olivia Lewi, panitia acara Martinus Day 2024, menyatakan, dengan menghadirkan teman-teman yang  kurang beruntung yakni bisu dan tuli ini merupakan cerminan dari sosok Santo Martinus yang peduli pada mereka yang kurang beruntung.

Komunitas Bawayang Yogyakarta berkolaborasi pada acara Martinus Day 2024 Wilayah Sengkan.

“Kami ingin menghadirkan secara nyata bagaimana kepedulian pada teman-teman disabilitas. Kepedulian itu salah satunya bisa dilakukan dengan cara berkomunikasi dengan mereka,” terang Olivia di Laboratorium Alam SMA Kolese de Brito.

Cara berkomunikasi dengan mereka yang bisu dan tuli, lanjut Olivia, menjadi masalah mendasar yang seringkali menjadi kesulitan bagi warga. Warga kebingungan berkomunikasi, karena mereka tidak memahami cara berkomunikasi dengan mereka. Maka Komunitas Bawayang Yogyakarta yang berkecimpung di dunia kesenian dan mewadahi mereka.

Komunitas Bawayang yang hadir dalam Martinus Day ini menampilkan pantomim dan tarian dari teman disabilitas tuli. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan produk Kasuli (Kafe Susu Tuli) yaitu susu yang diproduksi oleh mereka.

Selain komunitas Bawayang, juga hadir komunitas ADECO.  Komunitas ini menampilkan makanan dan sulaman hasil karya mereka. Sementara panitia menghadirkan Cemara Fashion berupa produk daur ulang dari sampah berupa tas, pouch, dompet, dan sebagainya.

Menurut Olivia, Cemara Fashion ini dihadirkan juga untuk meningkatkan kepedulian warga dalam hal  mengelola sampah. Acara yang di awali dengan Ekaristi ini juga dimeriahkan tari dan nyayian anak-anak, yang dikoordinir oleh para suster dan bruder.

Broto Wijayanto, salah satu penggerak komunitas ini, mengatakan, dulu ketika dia mendirikan komunitas disabilitas ini, dia pun kesulitan untuk berkomunikasi.

“Awalnya susah, namun lama-kelamaan saya paham. Sebenarnya kita bisa menggunakan bahasa umum untuk mereka. Misal kita mau bertanya apakah sudah makan, ya kita bisa mempraktekkan saat kita memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut. Kita Tidak harus hafal bahasa isyarat. Cara kita mempraktekkan sesuatu pun sudah merupakan isyarat untuk mereka,” jelas Broto.

Dalam acara menimba spirit Santo Martinus ini, Broto juga mengajarkan warga mengucapkan terima kasih dan berkata I Love You pada teman-teman yang tuli. Sementara, untuk yang tuna netra, Broto menerangkan warga bahwa mereka bisa berkomunikasi dengan pesan Whatsapp. Maka kepada mereka, tidak perlu khawatir bahwa mereka. Mereka bisa membaca pesan dengan bantuan teknologi Google.

“Saya sangat senang. Mereka bisa dikenal warga Jogja secara luas. Mereka juga memiliki banyak prestasi, dan perlu diapresiasi. Saya berharap melalui kehadiran teman-teman yang kurang beruntung dalam hal berkomunikasi dan pendengaran ini warga semakin berani untuk berkomunikasinya sebab mereka pun sangat senang bila disapa dan diperhatikan,” imbuh Broto serta mengapresiasi kolaborasi dalam acara Martinus Day ini dan merasa senang.

Teladan dari Santo Martinus

Sulpicius Severus, pengikut dan penulis riwayat hidupnya, mengatakan bahwa Martinus pada umur 10 tahun diam-diam mengikuti pelajaran agama Kristen tanpa sepengetahuan orangtuanya. Santo Martinus kecil lahir di Sabaria, Pannonia, sekarang, Hungaria Barat tahun 335. Ia dibesarkan di Italia. Sementara Ayahnya seorang perwira tinggi Romawi yang masih kafir. Ayah Martinus berharap ia menjadi perwira Romawi sepertinya. Maka pada umur 15 tahun, Martinus pun dimasukkan dinas militer.

Santo Martinus saat tergerak hatinya kepada pengemis di gerbang Istana.

Ketika memasuki kota Amiens, banyak orang menertawakan dia karena mantelnya yang aneh itu. Hal ini terjadi karena hati Martinus digerakkan oleh roh Ilahi. Saat ia menempuh perjalanan dinas ke kota Amiens, pada musim dingin tahun itu, Martinus berpapasan dengan seorang pengemis malang yang sedang kedinginan di pintu gerbang kota. Pengemis itu mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari padanya. Kasihan ia tidak membawa uang sedikit pun pada waktu itu. Apa yang dilakukannya? Martinus tergerak oleh belaskasihannya yang besar pada pengemis malang itu. Ia segera menghunus pedangnya dan membelah mantelnya yang indah itu. Sebagian untuknya dan separonya diberikan kepada pengemis itu.

Yesus bersama sejumlah malaekat Allah menampakkan diri kepadanya. Dalam penglihatan itu Martinus melihat Yesus mengenakan mantel setengah potong yang sama dengan bagian mantel yang diberikan kepada pengemis malang tadi. Hal ini terjadi di markas dinas ketentarananya, malam itu juga. Kepada para malaekat itu Yesus berkata: “Martin, seorang katekumen memberikan Aku mantel ini.”

Tak lama kemudian ia dipermandikan dan segera mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas ketentaraan. Ia pun mengajukan pengunduran dirinya kepada atasannya.

“Saya ini tentara Kristus, karena itu saya tidak boleh berperang,” kata Martinus kepada atasannya. Tetapi atasan dan perwira-perwira lainnya mencerca dan menuduhnya pengecut.

Tetapi dengan tegas Martinus menjawab, Ia berani pergi berperang dan bersedia berdiri di front terdepan tanpa membawa sepucuk senjata pun.  Akhirnya permohonannya dikabulkan dan ia secara resmi berhenti dari dinas militer Romawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *