Yogyakarta. Pagelaran Wayang Kulit bertema “Gugat Ginugah: Menggugah Nalar, Menggugah Kebenaran” dengan lakon Antareja Mbalela digelar dengan megah di Kampus V Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.
Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Wayang Sedunia dan diorganisasi oleh Bonifasius Cahya Bangunugraha, mahasiswa semester tiga Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik USD.
Dengan persiapan matang yang dimulai sejak 6 hingga 12 bulan sebelumnya, pagelaran ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara para dalang dan masyarakat untuk menyerap nilai kebijaksanaan yang tersirat dalam kisah Antareja.
“Kami ingin agar masyarakat membawa pulang kebijaksanaan dari lakon ini, dan menjadikannya oleh-oleh budaya yang berarti,” ujar Bonifasius penuh harapan.
Kisah Antareja Mbalela yang diangkat dalam pagelaran ini menampilkan perjuangan Antareja melawan ketidakadilan yang ia rasakan dalam lingkup keluarga Pandawa, terutama dalam dunia politik senopati.
Anastasia Nourma Hidayah, perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Karawitan yang juga penanggung jawab acara, menekankan bahwa tema “Gugat Ginugah” mengajak penonton untuk berani menyuarakan keadilan.

“Tema ini bukan hanya sekadar judul, tetapi panggilan agar kita lebih peka terhadap realitas sekitar. Ini adalah ajakan bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk menegakkan keadilan dengan cara yang bijaksana,” ungkap Nourma.
Keunikan pagelaran ini juga terletak pada kolaborasi empat dalang ternama, yakni Ki Yaho Pujabrata, Ki Anung Purdianugraha Jati, Ki Sarwo Edi Wardana, dan Ki Wahyu Prasetyo Aji.
Ki Anung, yang sebelumnya tampil hanya di keraton, merasa antusias dapat membawakan lakon di luar lingkup tersebut. “Ini pengalaman pertama saya tampil di luar keraton, karena pendidikan pedalangan Yogyakarta yang saya dalami terimplementasikan secara in house di lingkup keraton,” ungkapnya.
Sementara itu, Ki Wahyu Prasetyo Aji mengungkapkan kebahagiaannya atas perhatian universitas terhadap kebudayaan lokal. “Sangat menyenangkan melihat perhatian yang besar terhadap budaya lokal,” ujarnya.
Dalang pendatang baru, Ki Sarwo Edi Wardana, turut menyampaikan kegembiraannya bisa berpartisipasi dalam acara ini untuk pertama kalinya sehingga memberikan warna tersendiri dalam dunia pedalangan Yogyakarta.
Dukungan penuh juga diberikan oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ. Ia mengungkapkan, pagelaran ini adalah bentuk penyampaian opini yang unik terhadap isu politik.

“Kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pikiran kritis, baik melalui demonstrasi maupun pagelaran seperti ini, menunjukkan bagaimana universitas turut mengajarkan nilai kritis dalam menghadapi isu sosial,” ujar Rm. Bagus.
Selain sajian seni wayang, pagelaran ini juga diramaikan oleh berbagai usaha dana dari kepanitiaan untuk menambah suasana keakraban. Stan-stan kecil menawarkan ragam camilan hingga sajian gratis yang khas seperti jagung, ubi, dan kedelai rebus yang tentunya disambut dengan antusias oleh para pengunjung.
Inisiatif ini tidak hanya membantu mendanai acara, tetapi juga mempererat interaksi antara mahasiswa dan masyarakat umum dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan.








