Rm. Prier: Carilah Keheningan Jika Ingin Mendengar

News1281 Views

Yogyakarta. Pusat Musik Liturgi (PML) tidak pernah berhenti berbagi ilmu tentang musik liturgi. Pada tahun 2021, Pusat Musik Liturgi bekerja sama dengan PT Kanisius mengadakan webinar (kelas musik) secara daring sebanyak lima kali. Melihat dampak positif dari webinar ini, maka pada tahun 2022 webinar kembali diadakan sebanyak sepuluh kali. Tidak berhenti sampai di situ, dalam tahun ini webinar ketiga kembali diadakan pada Sabtu, 25 Maret 2023, dengan mengangkat tema “Pendengaran Fisik dan Non Fisik”.

Webinar yang berlangsung melalui Zoom ini menghadirkan narasumber utama yaitu Rm. Karl Edmund Prier, SJ. Sebagai pembuka webinar, Rm. Prier mengutip dari Injil Markus, “Kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (Mrk. 8: 18). Dalam webinar ini, Rm. Prier ingin mengajarkan bahwa “kita tidak cukup mendengar dengan menggunakan telinga, tetapi kita juga harus meresapi apa yang kita dengar menurut cara kita sendiri”.

Di dalam pemaparannya, Rm. Prier membagi pembahasan ini ke dalam tiga subtopik, yaitu dasar pendengaran, memperbaiki pendengaran, dan telinga batin. Ketiga subtopik ini mengantar peserta pada pemahaman bahwa ada hubungan yang sangat erat antara pendengaran fisik dan pendengaran nonfisik. Berbeda dengan pendengaran fisik, pendengaran nonfisik yang dimaksudkan di dalam webinar ini adalah telinga batin. Di dalam pembahasan mengenai telinga batin, Rm. Prier membagikan tiga tips jitu dalam mendengarkan musik. Pertama, mendengarkan musik sambil mencari pesan (pendengaran analitis). Kedua, mendengarkan musik sambil memperhatikan perasaan (pendengaran emosional). Ketiga, mendengarkan iringan dan aransemen (pendengaran kritis).

Sebelum masuk ke dalam sesi tanya jawab, Rm. Prier juga menekankan dalam rangkumannya bahwa indra pendengaran itu sangat penting. Indra pendengaran adalah indra yang paling peka. Bunyi yang paling lembut seperti jatuhnya daun (0-10 dB) sampai bunyi paling keras seperti letusan meriam (120 dB) dapat ditangkap oleh indra pendengaran manusia. Tidak ada mikrofon yang mampu menangkap bunyi dalam jangkauan seluas ini dengan mendetail seperti telinga manusia. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika ada orang yang kurang menghargai indra pendengaran. Terkhusus sebagai seorang pemusik, setiap bunyi yang didengar harus terlebih dahulu dimasukkan ke dalam telinga batin sebelum dimainkan. Selain itu, pemusik juga harus mampu menemukan jiwa dan pesan dari lagu yang hendak dimainkan.

Lebih lanjut, ketika masuk pada sesi tanya jawab, sekitar enam orang peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Meskipun sudah tidak berusia muda lagi, Rm. Prier selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas, tegas, dan disertai dengan sebingkai senyum di wajahnya. Sebelum webinar berakhir, Rm. Prier menyampaikan sebuah nasihat yang cukup filosofis.

“Nasihat saya, kalau memang mau belajar mendengar, carilah keheningan dulu. Dengan demikian, telinga kita akan mendengar. Tidak hanya yang fisik, tetapi juga yang nonfisik. Kuncinya adalah keheningan itu,” ucap Pimpinan Pusat Musik Liturgi itu. Bukan tanpa alasan, faktanya dalam lokakarya komposisi Pusat Musik Liturgi, tempat lokakarya selalu diusahakan untuk jauh dari kebisingan karena keheningan merupakan suatu keutamaan dalam penciptaan musik.

Ketika dihubungi UTUSAN dalam kesempatan terpisah, Rm. Prier mengungkapkan bahwa kelas musik secara daring ini sangat cocok untuk membicarakan tema-tema dan masalah aktual yang dialami oleh para dirigen, organis, dan pemazmur. Meskipun demikian, kelas musik secara daring ini dianggap kurang cocok untuk melatih keterampilan musik. Ia juga menyampaikan harapannya untuk perkembangan musik liturgi di Indonesia.

“Harapan Pusat Musik Liturgi agar para dirigen menghargai musik liturgi pribumi atau inkulturasi agar para organis sadar bahwa permainan improvisasi yang murahan dapat merusak musik paduan suara yang telah dilatih dengan saksama dan agar para pemazmur mencari konsep penjiwaan ayat yang meyakinkan,” jelas Rm. Prier.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *