Paus Bertemu Wakil Palestina dan Israel di Bawah Pohon Zaitun.

News1458 Views

VATIKAN. Paus Fransiskus mempertemukan perwakilan dua negara yang sedang berkonflik di Timur Tengah yakni Palestina dan Israel Jumat, 7 Juni 2024 di Vatikan. Perjumpaan di bawah Pohon Zaitun yang 10 tahun silam di tanam oleh Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas Presiden Israel kala itu Simon Pheres.

Di kutip dari Harian KOMPAS,  Paus Fransiskus kala itu mengundang Shimon Peres dari Israel dan Mahmoud Abbas dari Palestina untuk menyiarkan doa perdamaian serta menanam pohon zaitun yang kini setelah 10 tahun menjadi lokasi peringatan itu.

Vatican News melaporkan bahwa  di Taman Vatikan bersama para pemimpin Israel dan Palestina saat itu, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa ia berdoa setiap hari agar perang di Tanah Suci akan berakhir. Paus menegaskan kembali keyakinannya yang teguh bahwa bahwa perang tidak dapat menyelesaikan masalah.

Duta Besar Israel untuk Vatikan Raphael Schutz

Duta Besar Palestina untuk Vatikan Issa Kassissieh dan Duta Besar Israel untuk Vatikan Raphael Schutz hadir juga sebagai tamu Paus Fransiskus. Tak ketinggal Paus juga mengundang perwakilan Yahudi dan umat Muslim Italia dalam acara tersebut.

Pada kesempatan itu Paus Fransiskus menyerukan permohonannya kepada semua pihak untuk mengupayakan perdamaian abadi yang akan memungkinkan Negara Palestina dan Israel hidup berdampingan.

“Semoga semua pihak “menghargai Yerusalem” sehingga “itu akan menjadi kota pertemuan persaudaraan di antara Kristen, Yahudi, dan Muslim, yang dilindungi oleh status khusus yang dijamin secara internasional”, kata Paus Fransiskus.

Lebih lanjut Paus Fransiskus mengatakan sesungguhnya perdamaian tidak hanya dicapai melalui perjanjian tertulis atau kompromi kemanusiaan dan politik. Sebaliknya, cinta kasih lahir dari hati yang telah diubahkan, dan muncul ketika masing-masing telah bertemu dan disentuh oleh kasih Tuhan. Perjumpaan itu melenyapkan keegoisan, menghancurkan prasangka dan memberi rasa dan kegembiraan persahabatan, persaudaraan dan solidaritas timbal balik.

“Tidak akan ada perdamaian jika kita tidak membiarkan Tuhan sendiri terlebih dahulu melucuti hati kita, menjadikan hati kita ramah, penuh kasih sayang, dan penuh belas kasihan, akhir Paus Fransiskus.

Duta Besar Palestina untuk Vatikan Issa Kassissieh

Merangkul kedamaian
Memimpikan perdamaian, kata Paus Fransiskus, memberi kita kegembiraan yang tak terduga karena merasa menjadi bagian dari satu keluarga umat manusia. Dia mengenang pertemuan tersebut, dalam kunjungan pastoralnya ke Verona, antara seorang Israel dan Palestina, keduanya adalah ayah yang kehilangan anak-anaknya dalam perang, namun tetap saling berpelukan di depan semua orang.

“Inilah yang dibutuhkan Israel dan Palestina: pelukan perdamaian!”

Bapa Suci mengundang mereka yang hadir untuk bergabung dengannya dalam memohon perantaraan Tuhan, sehingga “para pemimpin negara-negara, dan pihak-pihak yang berkonflik dapat menemukan jalan menuju perdamaian dan persatuan.” Dan beliau meminta yang hadir untuk membacakan doa (di bawah) yang dipanjatkan pada doa satu dekade lalu.

Doa untuk Perdamaian
8 Juni 2014

Tuhan Allah damai sejahtera, dengarkanlah doa kami!
Kita telah mencoba berkali-kali
dan selama bertahun-tahun
untuk menyelesaikan konflik kita dengan kekuatan kita sendiri dan dengan kekuatan senjata kita.

Berapa banyak momen permusuhan dan kegelapan yang kita alami;
berapa banyak darah yang tertumpah;
berapa banyak nyawa yang hancur;
betapa banyak harapan yang terkubur…
Namun usaha kita sia-sia.

Sekarang, Tuhan, datanglah bantu kami!
Beri kami kedamaian, ajari kami kedamaian; membimbing langkah kita di jalan perdamaian.
Bukalah mata dan hati kami,
dan berikan kami keberanian untuk mengatakan: “Jangan pernah lagi berperang!”;
“Dengan perang, segalanya hilang”.
Tanamkan dalam hati kita keberanian untuk mengambil langkah konkrit demi mencapai perdamaian.

Tuhan, Tuhan Ibrahim, Tuhan para Nabi, Tuhan Cinta,
Engkau menciptakan kami dan memanggil kami untuk hidup sebagai saudara dan saudari.
Beri kami kekuatan setiap hari untuk menjadi instrumen perdamaian;
memungkinkan kita untuk melihat setiap orang yang melintasi jalan kita sebagai saudara atau saudari kita.

Jadikanlah kami peka terhadap permohonan warga kami
yang meminta kami untuk mengubah senjata perang menjadi alat perdamaian,
keraguan kami menjadi kepercayaan yang penuh keyakinan,
dan pertengkaran kami menjadi pengampunan.

Jagalah nyala api harapan dalam diri kita,
sehingga dengan kesabaran dan ketekunan
kita dapat memilih dialog dan rekonsiliasi.
Dengan cara ini semoga perdamaian akhirnya menang,
dan semoga kata-kata “perpecahan”, “kebencian” dan “perang”
dihilangkan dari hati setiap pria dan wanita.

Tuhan, redakan kekerasan lidah dan tangan kami.
Perbarui hati dan pikiran kita,
sehingga kata yang selalu mempersatukan kita adalah “saudara”,
dan jalan hidup kita selalu: Shalom, Damai, Salaam!

Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *