Jaga Indonesia Sebelum Terlambat

News1768 Views

Temanggung. Minggu, 19 Maret 2023 di Balai Keluarga Gereja St. Petrus Paulus Temanggung diadakan seminar kebangsaan untuk siswa Katolik di wilayah Temanggung. Acara ini diprakarsai oleh Tim Pelayanan Kerasulan Kemasyarakatan bekerja sama dengan organisasi Ikatan Pelajar Katolik Temanggung dan diikuti sekitar 50 peserta.

Seminar kebangsaan ini mengusung tema “Kaum Muda Katolik Merajut Kebhinekaan untuk Indonesia” dengan narasumber Rm. Dr. Martinus Joko Lelono, Pr, M.Hum, dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Pastor dan dosen yang biasa disapa Rama Jokle ini mengajak peserta untuk merefleksikan keadaan Indonesia saat ini. Apakah yang menarik dari Indonesia? Di sini interaksi Rm. Jokle dan peserta semakin intens karena banyak tanggapan dari peserta, dari kebudayaannya yang beraneka ragam, suku yang banyak, ras yang bermacam-macam, dan lainnya.

Setelah mengawali dengan refleksi awal tadi, Romo Jokle kemudian masuk ke materi yang akan disampaikan kepada peserta dengan subtema “Nasionalisme: Negeri Ini Kita Perjuangkan Bersama”.

“Apabila Angkatan ‘45 itu mengangkat kemerdekaan, Angkatan ‘98 mengangkat permasalahan pada rezim Soeharto, lalu angkatan 2023 itu memiliki permasalahan apa?” tanya Rm. Jokle kepada peserta sebagai acuan mereka untuk diskusi singkat.

Rm. Jokle menyimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi pascareformasi adalah krisis identitas, yang identitas agamanya saja yang selalu diagungkan, perpecahan akibat konflik-konflik yang dibangun, imajinasi permusuhan, mayoritas dan minoritas. Orang Katolik mestinya tidak boleh menyebut diri sebagai minoritas, karena tidak dihitung atas dasar agama. Dalam hal agama, umat Katolik memang jumlahnya kecil dan fakta yang terjadi adalah peminoritasan sehingga dianggap sebagai warga negara kelas dua. Padahal, umat Katolik juga merupakan warga negara yang memiliki hak penuh, sama dengan yang lain.

Romo Jokle berpesan: “Kalian harus menjadi terang dan garam di tengah masyarakat”.

Orang disebut menjadi warga Indonesia karena dua alasan, yaitu ius soli dan ius sanguinis. Jadi, umat Katolik jangan merasa minder karena pada dasarnya yang merangkap semua identitas adalah manusia, bukan agama, negara, dan yang lainnya. “Kalian harus menjadi terang dan garam di tengah masyarakat. Apabila kalian tidak lagi asin apa gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang,” tegas Rm. Jokle.

Romo Jokle kemudian menarik pendapat peserta kembali dengan menanyakan, “Menurut kalian, enak hidup di tahun mana? Tahun 1908, 1945, 1990-an, atau 2023?” Jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini ialah “Jangan didramatisasi karena setiap angkatan memiliki medan juang dan pahlawan mereka sendiri” (kutipan dari Rm. YB Mangunwijaya).

“Orang Katolik mestinya tidak boleh menyebut diri sebagai minoritas,” papar Romo Jokle.

Di Indonesia sekarang sedang dikembangkan moderasi beragama. Indonesia sedang berada dalam pemulihan dan Gereja Katolik menjadi bagian dari pemulihan negeri ini. Kutipan terakhir dari Rm. Jokle sebelum menyudahi sesi seminar kebangsaan dan menjadi tagline adalah “Sebelum Terlambat, Mari Kita Jaga Indonesia!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *